Suatu Sore di Kopitiam

Kopitiam akhir-akhir ini jadi tempat favorit saya. Selain harganya relatif lebih bersahabat, rasanya juga cocok sama lidah kampung ini. Entah sudah berapa banyak teman saya ajak ke Kopitiam seberang kantor itu. Di meja anu, ketawa ngikik sama anu. Di meja itu, deg-degan parah waktu ngobrol sama itu. Seru.

Sore ini sesi Kopitiam bareng teman SMA. We haven’t seen each other since… Ages. Lamaaaaa banget! She’s now a psychologist, a psychiatrist, an HR consultant, itu lah ya. Ngobrol standard ala-ala zodiak di majalah: update karir, cinta, dan kesehatan. Di tengahnya pake bumbu kenangan-kenangan masa SMA dulu. Kopitiam session is always a good session.

Obrolan hangat tentu saja soal cinta. Pria dan lelaki. And I wanna share my biggest takeaway from my afternoon at Kopitiam. She emphasized: “idealnya seorang cewe itu harus bangga sama cowonya. Kalo nggak, itu akan tercermin lho dari behavior sehari-hari: terlihat kalo cewenya nggak hormat sama cowonya. Sadar nggak sadar. Susah untuk bisa hormat, tanpa ada rasa kagum. No matter what.”

And I second that. A good reminder. A really good one. Software yang ke-install di cowo ya emang jadi leader. Dan naluriah juga buat seorang cewe buat dipimpin. Bahwa pemimpin harus bisa membuat follower-nya kagum, adalah logis. Dan kalau mau di-translate jadi requirement: ladies, choose a man that could amaze you. Therefore there are reasons why you wanna stay with them. Siapa bilang cinta nggak butuh alasan? Cinta butuh beribu alasan. Suka karna? Cantik? Ganteng? Sholeh? Prestasi? Atittude? You name them all.

Cinta butuh beribu alasan. Dan logis kalau alasan-alasan tadi nggak akan stay selamanya — oh, come on, what lasts forever? Thus, a commitment. Ketika alasan-alasan itu pergi satu persatu, yang harus didatangkan adalah alasan-alasan baru untuk mempertahankan komitmen. Alasan-alasan yang berlandaskan syukur, eagerness to be better, dan yang lebih ultimate lagi.. Mengharap ridho Yang Di Atas.

As cliché as it is.

Hidup nggak kaya slogan Minyak Kayu Putih “buat anak kok coba-coba”. Ya coba aja. Try it, feel it. If it — or he, can make you feel awesome: buy it. If it — or he, is not, put it back to the rack.

 

 

Advertisements


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s