About Finding Passion

Beberapa hari lalu dalam beberapa email yang keluar masuk di inbox, ada percakapan mengenai nemuin passion. Hasrat hidup.

Kalo dipikir, dulu-dulu waktu masih kecil ide “nemuin passion” itu rasanya nggak laku ya. Beda keadaannya sama dua tiga tahun belakangan dimana banyak pembicara yang memotivasi kita buat nemuin hasrat hidup. Ikutin apa kata hati. Dan ide menemukan passion ini buat anak generasi saya adalah proses yang sulit. Kenapa? Karena kita kebiasaan dituntut untuk mencapai “yang terbaik” dari kecil.

Contoh “yang terbaik” nih ya: masuklah kelas terbaik, sekolah unggulan, jadilah ranking 5 besar, lolos jurusan favorit, tembus universitas negeri terbaik, dll. “Yang terbaik” ini, selain diamini sama lingkungan, juga ada parameternya. Kita bisa dapat datanya, ada perbandingannya. Misalnya, ranking 1 itu jelas diantara 39 murid lain, kita paling unggul di total rata-rata ulangan, PR, dan THB. *THB tuh jaman kapan Ka =))* Begitu juga pas masuk SMA Unggulan, ada data yang menunjukkan bahwa intake siswa yang masuk rata-rata punya nilai tinggi, output-nya pun mampu diterima di universitas terbaik (yang juga menyaratkan nilai tinggi untuk intake mahasiswanya). Definisi “yang terbaik” ini jadi agak kusut pas udah beres kuliah dan siap masuk dunia kerja. Terus, “yang terbaik” perusahaan yang mana dan yang kayak apa? Kalau masih pakai acuan data dan angka, simpel aja, jawabannya perusahaan terbaik adalah yang bisa kasih gaji paling besar. Pertanyaannya, kalau gajinya gede tapi lingkungan kerjanya nggak enak gimana?

Cara bertahan di tempat kerja nggak enak walau gaji gede ini, nyambung sama didikan berikutnya yang bikin generasi kita susah nemuin hasrat hati: bahwa kita harus bisa beradaptasi sama proses menuju hal terbaik. Itu lho, attitude buat Love what you do. Pokoknya, apapun yang sudah kita pilih untuk lakukan wajib untuk ditekuni, dipelajari, dan kalo bisa maksimalkan kinerja di sana. Terdengar ada yang salah? Nggak sama sekali. Didikan love what you do ini bener banget kok. Kita emang harus bisa tanggung jawab, bahkan total di hal yang udah kita pilih sebelumnya dengan sepenuh hati. Di ulang ya, di hal yang udah kita pilih sebelumnya dengan sepenuh hati; alias kalo ada kalimat Do what you love sebelumnya. Coba kujejerin nih premisnya,

Set the best thing to do then love what you do

Set what you love to do then love what you do 

Apakah kesimpulan dua premis di atas adalah  the best thing to do sama dengan what you love to do?

Jeng.. jeng.. jeng.. jeng.. Karena sejak kecil “the best thing to do”-nya udah ada, udah tersedia dan tinggal pilih, kita nggak pernah pusing dan repot mendengarkan hati apa yang bener-bener kita suka. Akhirnya, the best thing to do itu yaudah aja dinobatin jadi what we love to do. Kita jadi nggak punya ketekunan untuk mendengarkan hati.

Baiklah, setelah membaca-baca buku-buku passion dan semedi mendengarkan kata hati, lalu keluarlah beberapa point hal yang kita suka. Terus pertanyaan berikutnya, hal manakah yang bakal kita pilih satu sepanjang hidup untuk ditekuni?

Nggak banyak dari kita yang punya keberanian untuk memilih satu hal yang bakal kita suka dan kita tekunin sepanjang hidup. Kenapa? Takut salah pilih. Takut kalo  ternyata nanti alternatif lainnya terbukti oleh orang lain bisa menghasilkan data angka yang lebih bagus (misalnya, gaji lebih besar). Hihihi, jadi inget postingan kemaren, kalo sebaiknya kita nggak usah selalu iri sama rumput tetangga.

Ketakutan memilih biasanya ditunjang juga dengan nggak biasa beda pendapat sama lingkungan. Karena mungkin banget hal yang kita suka ini bukan dianggap sebagai hal terbaik sama lingkungan. Takuttt bener rasanya kalo terbukti salah milih dan nyesel, ntar denger kalimat-kalimat senada “Tuh kannnn, nenek bilang apa coba!”

It is a hard process indeed. Nggak mudah. Ketakutan utama, tentu saja dianggap nggak sukses sama lingkungan sekitar (misal ya: Eh, kok si anu pendapatannya nggak gede padahal sekolahnya pinter, si anu kok kerjanya aneh bikin patung-patung gak jelas, si anu kok gini gitu, dll dll) Ekspektasi lingkungan mengenai “hal terbaik menurut mereka” akan terus menghantui. Dan itu wajar.

Satu cara paling awal menempuh pencarian passion menurutku adalah berdamai. Damai dulu sama diri sendiri, bahwa it is so okey to have our own definition about “the best things”. Bahwa berbeda dari lingkungan, adalah bukan hal yang dosa. Even kita belum tau apa yang terbaik buat kita (karena itu tadi, kita dari kecil memang sudah ditanamkan bahwa yang terbaik untuk kita itu adalah ekspektasi lingkungan, kita tidak terbiasa untuk memilih. Sulit mendengar kata hati, menganalisis diri, dll). Bahkan almarhum Steve Jobs mengakuinya kok di video wisudaannya stanford itu, “Just keep lookin” 🙂

Buat yang memilih jalan buat nemuin passion, ini ada artikel bagus, siapa tau belum pernah baca:  Cerita tentang si Ranking 23. 🙂
Nggak semua orang bisa melewati tahap berdamai ini. Nggak semua orang bisa memperjuangkan kebahagiaan sejatinya. Tapi, orang yang menyerah di proses ini dan nggak menemukan kebahagiaan sejatinya, belum tentu tidak bahagia. Aku punya teman yang kini kerja di bidang perminyakan walau suka fotografi, dia bahagia. Aku ketemu temenku yang kerja di sebuah kantor perbankan walau dia suka hal-hal berbau kesehatan, dia bahagia. Aku juga punya seorang teman, yang akhirnya bahkan nggak memenuhi ekspektasi ayah ibunya untuk kerja kantoran, ataupun menekuni usaha clothing sebagai kesukaannya, melainkan dia jadi ibu untuk anak cowonya, dia juga nggak kalah bahagia 🙂

Jadi menurutku menyelesaikan proses pencarian kebahagiaan sejati alias passion ini bener-bener pilihan. It is so worth to look for.  Kalo ketemu nikmatnya naujubile pastinya. Bisa mengerjakan passion dan hidup dari situ.  Tapi kalopun nggak ketemu, atau nggak mau ngelanjutin nyari, Tuhan selalu kasi alternatif lain yang bisa tetep bikin kita bahagia. Percayalah. Lagipula ya, udah nemu passion terus jaminan mutu bahagia terus selamanya gitu? Sama aja kok, orang yang berkarya sesuai passion-nya juga punya jenuh dalam bekerja. Punya bosen ngadepin hal yang mereka suka. Namanya juga roda, ada di atas ada di bawah. Biar tetep jalan, ya harus berputar.

Nggak dosa kalo nggak milih nemu passion. Asal total di pilihan kita, dan bisa bahagia di sana. It’s all our choice. Yang penting itu, berani milih! 😀

Advertisements

3 Comments on “About Finding Passion”

  1. sarah says:

    sukaaaaaa postingannya..:) *sedangdilemaantarapilihprusahaandengangajigeatauperusahaandengangajikecil.

  2. ikazain says:

    Hehe, semangat ya Sarah 😀

  3. […] Marketing for my master degree. If you can’t really see where you are in the next 10 years, just keep trying. Having a good picture of who do you wanna be in the future would help you to start, a […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s