Untuk Bayu

Saya pulang ke rumah hari itu dan mendapati ruang makan ramai dengan ibu, adik-adik, bibi dan adik sepupu saya. Mereka sedang membicarakan NEM adik dan sepupu saya yang akan masuk SMA tahun ini.

Saya memiliki tiga orang adik. Adik perempuan sudah hampir menamatkan kuliah di PTS Bandung, adik laki-laki kelas 3 SMK di Jakarta, dan satu lagi adik laki-laki bungsu yang baru mau masuk SMA tahun ini. Bibi saya anak pertamanya sepantar adik kecilku, SMP kelas 3 dan akan masuk SMA tahun ini. “Waaah, ramai sekali. Pengumuman NEM ya?” kataku. Aku melihat sebuah map kuning. Kubuka, di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan nama adikku, Bayu Tri Pamungkas, dinyatakan lulus dengan NEM 35.80. Adik sepupuku (anak Bibi) namanya Lia, NEM-nya lebih tinggi : 36.80. Luar biasa. Hebatnya anak zaman sekarang, batinku. Untuk 4 jumlah mata pelajaran yang diujiankan, NEM itu berarti nyaris semua bernilai 9. Saya ingat betul, dulu dari skala 60, nem saya hanya 42 koma sekian, yang artinya rata-rata nilai 7 koma tak sampai delapan. Jomplang betul kalau dibandingkan sama nilai adik-adikku ini. Tapi lumayan lhooo, nilai ini cukup untuk bekal saya masuk sekolah unggulan impian di Jakarta. Singkat cerita, malam itu kami semua bangga akan prestasi adik-adik.

Mereka berdua ingin mendapatkan SMA terbaik di Bandung. Adikku berasal dari SMP 2, SMP yang termasuk unggulan di Kota Bandung. Dia punya cita-cita meneruskan pendidikan via jalur sutera. Jalur sutera adalah istilah yang umum digunakan di Bandung.  Beberapa siswa yang sejak kecil berprestasi, melewati sekolah-sekolah unggulan negeri dan berujung di PTN Negeri. Orang-orang yang masuk jalur sutera ini biasanya saat kelulusan dan pindah sekolah rasanya seperti naik kelas saja, teman-teman mereka di SD – SMP – SMA – PTN tak jauh berbeda. Di Bandung, SD jalur sutera adalah SD Banjarsari dan SD Merdeka, Dilanjutkan SMP 2 dan 5, SMA 3 dan 5, lalu berujung di ITB atau UI.

Adik saya ingin masuk SMA 3 Bandung seperti suamiku, Kakaknya. Atau seperti kakak perempuannya yang dulu di SMA 5 Bandung. Inilah cerita tentang Bayu pergi ke SMA.

Hari itu, saya bersama adik perempuan saya datang ke SMA 3 untuk mencoba mendaftar. Saya membawa map berisikan fotokopi surat kelulusan dan NEM adik saya. Ternyata SMA 3 dan 5 tahun ini hanya menerima sedikit sekali mahasiswa dari jalur NEM murni. Mereka sudah melaksanakan Ujian Mandiri untuk siswa-siswa yang ingin masuk ke sana. Weh, ini kok udah kaya PTN saja ada Ujian Mandirinya, pikir saya dalam hati. Adik saya tempo hari memang cerita, kalau ada ujian mandiri yang bayarnya lebih mahal, jadi dia berniat ambil jalur standard saja. Dari ulik-ulik informasi akhirnya saya mengetahui kalau SMA 3 tahun ini hanya menerima 1 kelas (30 kursi) dan SMA 5 menerima 2 kelas (60 kursi). Kebetulan SMA 3 dan 5 ini berada dalam satu lingkungan yang sama. Sesampainya saya di sana, saya melihat pengumuman dimana terlihat status para pendaftar ke SMA 3. Saya terhenyak ternyata NEM adik saya tak ada apa-apanya. Orang yang nemnya 39 koma dan 38 koma itu buanyaaak sekali.

Di tengah keterheranan saya akan besarnya NEM-NEM anak zaman sekarang, ada seorang cowok sepantar adikku menghampiri. Dia salah satu calon pendaftar ke SMA 3, mungkin dikiranya aku salah satu pendaftar lalu dia menanyakan berapa NEM-ku.

Adik kecil : “Maaf, boleh tau berapa NEM-nya?”

Aku : “35.80” Jawabku penuh sipu, wihihi aku masih cocok lho jadi anak SMA.

Adik kecil : “NEM 35 KOMA MASIH NEKAD MAU MASUK SINI?” katanya setengah kaget

Aku : Diam sebentar. Geram. Arr. Ingin cekik anak ini rasanya. Tarik nafas. “Oh, saya sih (Dharma Wanita) Alumni sini. Ini adik saya yang mau masuk sini. ” Yang di dalam kurung tidak disuarakan.

Adik kecil : “Oh…. Maaf..” Diam sebentar dia. Lalu tanya lagi. “Memang adiknya dari SMP mana teh?”

Aku : Dari SMP 2.

Adik kecil : “Oh pantes..”

Aku : “Emang ade dari SMA mana?”

Adik kecil : “Dari SMP 2 juga teh. Duanya kebanyakan, jadi SMP 22.”

Aku : “Oh..” sambil melengos, gue berlalu meninggalkan anak ini.

Setelah mengobrol dengan adik kecil ini saya makin terpana akan hebatnya otak anak-anak zaman sekarang. Ternyata nilai adikku yang sudah hampir rata-rata sembilan itu, tidak ada apa-apanya sama sekali. Adik kecil tadi NEM-nya 37 koma sekian pun masih ketar-ketir keterima dimana. Lihatlah hasil penerimaan mahasiswa baru SMA di Bandung tahun ini. Angka passing grade artinya, NEM terendah yang diterima di SMA tersebut. Pupus harapan adik saya untuk masuk SMA 3.

Perhatikan sebaran angka NEM di atas. Tidak ada perbedaan mencolok antara SMA unggulan (Cluster I) dan Clustuer di bawahnya. Semua hampir rata di atas rata-rata nilai sembilan. Lalu apa dong manfaatnya dibuat penggolongan cluster? Apa dong manfaatnya dibuat ujian bersama?

Yang paling membuat saya sedih tak hanya karena pupusnya harapan adik saya untuk masuk ke sekolah impiannya, melainkan  obrolan para orang tua yang menggerutu bahwa semua ini diakibatkan karena kebocoran soal yang nggak kira-kira. Deg. Kebocoran soal? Apalagi ini?

Adikku : “Da Bayu mah kalo mau minta contekan tinggal minta aja ke temen, mbak Ika. Pasti dikasih”

Aku : *melotot*

Mama : “Kenapa nggak atuh?”

Bayu : “BUAT APA ATUH MAM SEKOLAH CAPE-CAPE 3 TAHUN KALO UJIANNYA NYONTEK. NGGAK USAH ADA UJIAN AJA SEKALIAN. BAYU MAH MENDING NILAINYA KECIL TAPI MURNI HASIL SENDIRI.” Adikku ini emang agak galak gitu. Tapi sesungguhnya hatinya berbulu domba.

Aku : Kaget. Mewek. Bangga. Jadi satu semua.

Bener sih, kalau udah kejadiannya  semua orang dapat bocoran kayak gini, ya buat apa atuh ada ujian. Miris waktu tahu bahwa ibu-ibu yang daftar ke sekolah Cluster II marah-marah, karena ada anak nemnya 39 koma yang daftar ke sana. “Punya NEM besar harusnya sekalian aja daftar Cluster I. Kalau daftar Cluster 2 nanti makin menyulitkan NEM yang lebih rendah, karena akan terbuang ke SMA lain yang Clusternya lebih kecil”, begitu gerutunya.  Setelah ditanya ke yang bersangkutan, memang sehari-hari siswa ber NEM 39 ini biasa-biasa saja prestasinya. Oleh karena itu niat untuk daftar SMA Cluster I juga tak ada, takut kalah bersaing. Takut tak bisa mengikuti. Ada lagi orang tua yang mengaku waktu anak ujian dia stress karena khawatir anaknya tidak lulus, tapi kaget setengah mati nggak percaya waktu pengumuman kelulusan anaknya lulus dengan NEM 38 koma. Miris rasanya denger cerita kayak gini.

Saya jadi mengerti mengapa SMA 3 dan 5 mengadakan tes masuk sendiri berlabelkan SBI (Sekolah Bertaraf International). Di mata saya, tes Ujian Mandiri SMA ini adalah sistem antisipasi dari semua hal di atas. Mereka tak mau kompromi dengan kualitas intake siswa yang masuk, sehingga mereka membuat sistem penyaringan sendiri untuk mendapat intake yang memang dianggap qualified. Tentu saja guru-guru SMA Unggulan akan sebal karena kesulitan mengajar jika mereka mendapat intake palsu dari sistem NEM murni saja.

Sediiiiih sekali rasanya. Seburuk inikah potret pendidikan di Indonesia? Sebelumnya saya sudah kenyang dengan berita ibu Siami.  Dan sekarang saya melihat dan merasakan sendiri di depan mata saya. Bahwa karena parameter kelulusan dan kecerdasan anak dilihat dari satu nilai di ujian akhir, lalu semua orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Lalu apa? Nilai yang tinggipun saat ini jadi biasa. Tak ada artinya. Untuk apa nilai tinggi namun akhlaknya nggak ada. Di Malaysia, tetangga abadi kita yang kita cintai itu, di sana sudah tak ada mekanisme “tidak naik kelas” atau “tidak lulus”. Semua orang naik kelas, semua orang lulus dengan catatan si A punya kelebihan di lalala dan kekurangan di lalalala, dan seterusnya. Lha ya kalau mau menyeragamkan otak manusia ya susah dong, pada dasarnya kita sudah dilahirkan berbeda. Saya mungkin lebih suka belajar marketing. Suami saya suka memotret. Adik saya suka latihan bola. Lalu apa semua harus punya NEM 39 koma? 😐

Kalau sudah berhasil menyeragamkan otak seperti tahun ini, lalu mau apa?

Saya pun pernah mengalami ujian-ujian sekolah. Saya bukan orang yang suci dari aktivitas mencontek. Buat saya mencontek itu manusiawi kok, tapi kalau diamini berjamaah oleh satu sistem masyarakat,..

haduh..

Saya sadar saya bukan pengambil keputusan di bidang pendidikan di Indonesia. Saya tak berdaya apapun untuk merubah sistem yang dimata saya mistis luar biasa ini. Saya hanya punya @akademiberbagi yang sedang saya coba jalankan di kota Bandung. Saya ingin mengembalikan kembali makna belajar, lewat setiap kelas di Akademi Berbagi, lewat setiap semangat para guru yang rela membagi ilmunya gratis, lewat setiap siswa luar biasa yang melangkahkan kaki dan datang untuk belajar, lewat setiap para pemurah yang meminjamkan ruangannya untuk dijadikan kelas, lewat setiap livetweet yang tersebar.

Belajar nggak harus di bangku sekolah kok. Belajar kan hak semua orang. Asal punya kemauan, pasti selalu ada kesempatan.

Oh ya, kembali ke Bayu. Malam itu setelah hari pendaftaran SMA kita cuma bisa pasrah Bayu terlempar ke SMA mana. Sudah tak apa tak masuk SMA impian, kita tetap pergi menikmati malam Minggu di jalan Dago, merayakan 35.80 yang dek Bayu dapat dengan murni dan penuh kebanggaan. Knowledge’s indeed a power, but character is more.

:”)

Advertisements

2 Comments on “Untuk Bayu”

  1. Asop says:

    Entah ya, yang salah sistem pendidikan kita atau apanya. Tapi barangkali juga anak jaman sekarang memang pinter2?

    Ya apa mau dikata… 😐 Harusnya, idealnya ya, masuk SMA mana aja itu sama. Gak ada yang namanya sekolah unggulan. Jadi enak, orang yang rumahnya di pinggir kota (tapi pinter) gak usah jauh2 ke SMA unggulan (di pusat kota). Tinggal masuk aja ke SMA yang dekat rumahnya. Gak boros duit transport, waktu juga gak terbuang.

    Teorinya sih begitu… :mrgreen:

  2. […] Ika! I knowww. I did some livetweet too while I’m listening to the talks (thanks to @akademiberbagi I had this behavior). You can check some of the notes from the talks in my fav tweets, I’ve […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s