Melihat Yang Sulit Dilihat

Sewaktu saya SD dulu, Ibu menyuruh saya minum susu. Setiap hari. Saya, menunggu ibu lengah. Lalu membawa gelas susu keluar ruang makan, menumpahkannya di pot bunga, seraya berdoa semoga bunganya tumbuh lebih sehat. Saya tidak suka rasa susu, daripada dibuang sayang, pasti kembang ibu juga butuh.

Adalagi waktu SMA, saya getol ikut bimbingan belajar ini itu untuk bisa masuk PTN. Mengerjakan soal kimia waktu itu sama seramnya seperti badut ancol. Saya rela menunda pulang selepas kelas untuk diajari langsung dengan gurunya. Si guru sudah hafal dan sebal dengan ritual saya-menyamperi-dia. Besok nggak ngerti lagi, nggak ngerti lagi. Si guru pernah bilang, kamu ini harusnya kena charge ekstra untuk setiap kamu-nyamperi-saya.

Waktu kuliah, memutuskan topik TA menghabiskan waktu hampir satu tahun. Ngobrol dengan si ini, bikin topik ini. Nanti ngobrol dengan si itu, bikin lagi topik itu. Nggak beres-beres.

Saya lihat sekarang pattern-nya. Semoga saya tidak jumawa untuk menyimpulkan ini adalah tentang melihat sesuatu yang belum terlihat.

Saya dan ibu saya tetap terperangkap di lingkaran yang sama bersama pot bunga, sampai suatu hari kami sepakat untuk membeli susu dalam kemasan dan dinikmati selagi dingin. Akhirnya pot bunga kami tak perlu minum susu lagi, saya suka rasa susu baru. Saya dan guru kimia juga sepakat, saya tak pandai di kimia, jadi slot kimia di SPMB tak perlu dikerjar ngotot. Kejar saja di subject lain yang saya lebih naturally bisa. Topik TA terpilih dengan mendengarkan kesukaan hati. Mata di-stop untuk jadi banci lihat topik orang sana sini.

Sulit melihat, bukan berarti nggak bisa kan ya. So, akhirul kata:

Jangan kencing di pom bensin, Keep searching what the unseen.

Advertisements

7 Comments on “Melihat Yang Sulit Dilihat”

  1. batari says:

    good luck for whatever you are doin right now, ika.
    bythewaaay, kok jangan kencing di pom bensin sih ka.. maksudnya, cari toilet lain yang lebih bagus gitu?

    Hehehe. Maaf kaa nggak ngertiiii.

  2. ikazain says:

    Nanti kebakar bat. Pipisnya di WC yang di pom bensin aja. Hyahaha.
    Itu cuma sampiran kok Bat. 😀

    Goodluck to you too ya Bat.

  3. rani says:

    bagus kalimat terakhirnya, ka :))

  4. ikazain says:

    Yang manis-manis itu memang selalu ditaro di akhir, Ran. Tsssah.

  5. Taufiq says:

    Wah, sayangnya kita ga kenal dari kecil. Kalo kenal, saya bersedia lho nerima limpahan susunya 😛

  6. echaboy says:

    bahkan pantun terakhirnya pun harus dilihat dari sisi lain.. nice one ka! ya walaupun pantunnya agak cheesy sih… ;P

  7. wah bagus juga …


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s