Tidak Tenang

Apakah kamu pernah melakukan sesuatu yang salah secara norma, lalu merasa tidak tenang?

Menurut saya ini adalah hal yang manusiawi. Sebuah anugrah yang, kalau kita tidak lagi merasa seperti itu, maka ada yang salah dalam diri kita, menurut saya. Dalam postingan ini saya akan bercerita sekilas tentang kisah saya. Sebuah pengalaman mengetuk pintu rizki. Kalau untuk saya pribadi, ini mahal harganya. Semoga teman-teman bisa belajar dari kisah ini. Jadi tak perlu membayar mehel.

Hyuk.

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah sms. “Ka, calon toko kita dikeroyok sama bu Hani. Telepon gue dong.” Saya buru-buru men-dial nomor tersebut dan memintanya bercerita lebih lanjut.

Saya punya sebuah toko dulu, Desember tahun lalu. Sebuah jasa pelayanan Laundry Kiloan. Namanya Cuci Wangi, di sebuah kawasan kontrakan mahasiswa dekat kampus saya dulu. Alhamdulillah toko tersebut berjalan lancar dan memiliki banyak pelanggan. Saya punya 3 pegawai waktu itu, sungguh senang sekali. Sampai pada suatu saat ada pihak yang tak suka dengan kesuksesan saya. Dialah yang mpunya kontrakan tempat saya menyewa tempat.

Mereka melihat betapa banyaknya uang yang masuk setiap hari di laci kami. Seminggu pertama, pendapatan kami lengit. Dan 4 bulan berikutnya, lebih parah lagi, kami diusir dari sana sebelum masa waktu sewa habis dan dia mendirikan usaha sejenis di tempat kami. Karyawan kepercayaanpun dihasut untuk melawan dan akhirnya ikut dengan mereka. Yang bikin tambah tak sedap, dia menyebarkan isu bahwa kredibilitas kami menurun, bangkrut, lalu dia membeli laundry kami. Masih banyak isu tak sedap lain yang disebarkan seperti, kami berhutang banyak iuran listrik dan air dengan pihak mereka, banyak baju pelanggan yang hilang, dan lainnya. Which is semua pernyataan itu berkebalikan kebenarannya.

Saya dan rekan memilih mengalah. Tak ada yang bisa dibanggakan melawan orang yang greedy seperti itu. Yang rela melakukan berbagai macam cara demi mencari beberapa Rupiah. Kami meninggalkan tempat itu dengan jutaan piutang. Yang paling bikin saya sedih adalah, pekerja saya yang terlantar. Sedih sekali.

Tak lama saya dan rekan tetap semangat. Ditipu rasanya seperti habis di-wisuda dari S2 bisnis. Yah, anggap saja begitu. Toh harga dan pelajaran yang didapatkan juga mirip. Hehe. Kami tetap berjalan dan sekarang memiliki 2 toko di tempat berbeda.

Suatu hari, timbulah ide untuk ‘menengok’ tempat kami dulu. Wah, namanya sudah ganti, “Mukti Laundry”. Spanduknya memiliki alignment yang mirip dengan spanduk kami dulu. Ramaiiii sekali. Alhamdulillah. Banyak sekali jemuran dijejer di depan. Mungkin karena kebanyakan order ya. Saya turut senang. Dan lebih senang lagi saat menemukan ruko dipasang tulisan “dikontrakkan” sekitar 5 rumah sebelum laundry miliknya. Saya langsung dial nomor itu.

Singkat kata deal pun terjadi. Dua tahun masa sewa sudah disepakati di atas kertas bermaterai. Ditambah lagi, beberapa hari berikutnya saya dapat tawaran mesin dengan harga miring. Rasanya jalannya sungguh dibukakan. Bismillah.

Lalu saya mendapat sms dari rekan saya tadi.

Mereka tidak tenang. Mereka takut dan terancam. Takut market share turun. Takut segala cerita yang sudah dibangun ternyata runtuh. Takut bersaing. Rasa takut ini diimplementasi dalam hal yang sungguh represif. Rekan saya terancam bonyok dikeroyok oleh orang-orang yang mereka bayar. Pihak pengontrak dirongrong terus menerus. Mesin-mesin kami diancam akan dihancurkan. Dan kami tak diperbolehkan membuka toko di sana. Oleh mereka. Hehe, saya merasa ini adalah hal yang lucu. Padahal tetangga 4 arah mata angin, RT, RW, dan semua pengusaha laundry (tentu saja tak termasuk dia) mengangguk setuju. Semua berkata, “Kalau rizki, ya tak akan kemana. Semua ada porsinya dari Yang di Atas”.

Saya dan rekan memilih mundur akhirnya. Untuk kebaikan semua pihak. Saya tak rela rekan saya bonyok. Tak rela mesin investor saya rusak. Tak rela pekerja saya tak jenak batin dalam bekerja. Uang bukan segalanya. Setinggi apapun saya menggaji pekerja saya, jika dia merasa terancam terus dalam bekerja, rasanya tak akan terbayar. Setinggi apapun margin yang saya dapat, tak akan tenang hati jika terus dirongrong orang.

Ini seperti sinetron. Mungkin memang saya belum mendapat kesempatan, untuk menyaksikan tokoh antagonisnya mendapat ganjarannya. Keburu iklan. Atau, terlanjur banyak penonton yang gandrung dengan alur ceritanya, sehingga episodenya dibuat sangaaaaaaaaat panjang.

Mudah-mudahan, ini memang jalan yang ditunjukkan.

Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa hal ini baik bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka tentukanlah ia untukku dan mudahkanlah ia bagiku, kemudian berilah aku berkah padanya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa hal itu jelek bagiku dalam agamaku dan kehidupanku serta akibat urusanku, maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku darinya, dan tentukanlah untukku kebaikan di mana saja ia berada, kemudian jadikanlah aku ridho kepadanya

(Doa Istikharah yang dianjuran Rasulullah SAW : Hadis Bukhari)

Advertisements

12 Comments on “Tidak Tenang”

  1. iyra says:

    tenang.. Allah ga pernah lupa..dan ga pernah tidur… SEMANGAT.. mungkin ada rejeki yang jauh lebih baik di tempat lain

  2. dita says:

    ikaaa…
    mudah2an bisnis nya lancar yaah,,
    🙂
    ih malu deh.. gw anak sbm malah blm bisnis.. 😛

  3. batari says:

    dibalik kesulitan ada kemudahan, ka. insyaAllah ya ka berikutnya akan lebih sukses! didoakan dari sini 🙂

  4. ikazain says:

    @Iyra:
    Mungkin emang nggak bagus tempatnya, Ra. Hehey.

    @Dita:
    Bisnis itu banyak yang bilang kaya naik haji dit. Butuh panggilan. Hehe.

    @Bat:
    yeaap. Di sini serunya Bat. Kapan lagi ketemu sama orang macam kaya gini. Hehehe. Thx ya all.

  5. Nadya Fadila says:

    Semangat Kaaaaa, insyaAllah yang terbaikkk.

    *Atau kaya kata Jovian, kita bubarin aja ituuuuu!!!! ;p

  6. ikazain says:

    Sakti banget tuh Nad Mr. Jovian.
    😛

  7. ikram says:

    Kenapa buka usaha cuci baju lagi? Bikin kosan dekat situ lah.

  8. yasmin says:

    bener Ka, ada lesson learned nya. dan bukan cuman buat lo aja tapi buat orang2 yang baca blog lo.
    itung2 lo traktir kita ilmu lah. hahaha.

    semoga ujungnya berbuah manis ya. 😀

  9. ray rizaldy says:

    ikram payah, yang ditemuin kan ruko, bukan rumah. :p

  10. Djafar says:

    sabar ya ka..
    insy diberikan pintu rizki lain yang lebih baik,:)

  11. hwew.. pertamax keblognya ka ika.. hehehe..
    semangat kak..

    semua ada yang ngatur..:)
    kak jangan lupa ajarin aku yang waktu itu yaa..hehehe..

  12. dian says:

    wow, keren ceritanya, lebih keren lagi liat eh baca reaksi lo dari peristiwa ini. apa ya? gw kasih semua jempol yg bisa gw kumpulin skrg deh ka, hehe..

    i always believe that good thing always lead to another, vice versa. what goes around comes around lah.
    skrg mgkn pintu rizki secara perduitan bisa dihambat sama oknum2 itu, tp rizki ilmu dan kekayaan batin tetep lo juara ka! gile, gw makin yakin bgt lo pasti jd something great di masa depan.

    well done ka! semangat yaa! 😀


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s