Pada Suatu Kuliah..

Kalau sesuai rencana, semester ini adalah semester terakhir saya mengambil jumlah 2 digit sks pada perkuliahan. Saya mengambil kredit berjumlah 20 untuk semester ini. Kredit yang mengadakan kelas untuk kuliah ada 5. Kuliah rasanya lengang sekali lho buat saya. Entah kenapa. Hmm, mungkin karena semester ini tanpa praktikum. Mungkin karena sudah turun jabatan. Lho, jadi meleber. Bukan itu kok yang saya mau ceritakan.

Kuliah yang lengang berdampak pada mudahnya saya mengatur otak untuk fokus ke lima kuliah tadi. Saya sangat menikmati perkuliahan pada semester ini sampai pada suatu hari…

Kuliah ini didoseni oleh seorang bapak yang punya kemampuan bicara ruarr biasa lama. Dia mampu memberikan kuliah tiga setengah jam nonstop. Maklum saja, pekerjaannya sehari-hari sebagai konsultan biasa mengandalkan kemampuan berkomunikasi selain, tentu saja, otaknya yang cemerlang. Saya sempat berpikir, isterinya pasti seorang yang punya kemampuan mendengar yang juga ruarr biasa. Hehe.

Secara kemampuan otak, saya mampu menangkap kuliahnya dengan baik. Walau sempat tidur barang satu dua jam, saya toh tetap mendapat satu dua setengah jam sisanya dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan. Saya suka caranya menyampaikan kuliah, karena dia sering mengaplikasikan ilmunya dalam contoh-contoh nyata perusahaan Indonesia. Perusahaan klien miliknya, tentu saja.

Kuliah lalu dia mengadakan kuis. Peserta kelas pun diminta mengeluarkan secarik kertas, dan mulailah dia menyebutkan soal yang harus dijawab, “Mengapa perspektif finansial pada peta strategi tidak membutuhkan inisiatif strategik?”. Begitulah bunyi soal yang harus kami jawab. Saya pun sigap merangkai kalimat, menuangkan jawaban di kepala. “Karena perspektif Finansial merupakan level paling atas pada peta strategi. Dan karena inisiatif strategik dibuat untuk mencapai sasaran strategik pada perspektif level diatasnya, maka karena perspektif finansial adalah level paling atas, maka tidak diperlukan adanya inisiatif strategik”. Berdasarkan lirikan mata, jawaban saya singkat dibandingkan dengan jawaban tetangga sesampingan saya. Ah, saya tambahkan gambar deh. Gambar level -level perspektif tadi. Oke, dan dikumpulkanlah kertas itu.

Lalu si bapak men-screening jawaban. Pada saat dia sampai ke kertas jawaban saya dia bertanya, “Mana Fadilla Tourizqua?” tentu saja dia kesulitan membaca nama saya. Lalu saya mengangkat tangan. Dia tampak membaca jawaban saya, lalu berkata lagi “Anda ini anak TI kan, ya?”. TI adalah singkatan dari nama jurusan saya: Teknik Industri. Lalu saya mengangguk tanda iya. Dan si bapak melanjutkan komentarnya, “Anda ini kok jawabannya begini? malu-maluin anak TI aja. Anda ini anak TI nggak sih?”

Der..der..der.. Saya pun mengerutkan dahi. Diam. Tak berbunyi.

Salah ya jawaban saya? Perasaan jawaban yang saya tulis tidak menyinggung TI sama sekali. Hmmm, menyinggung si bapak juga nggak. Dan kuliah kemarin saya tidak tidur sama sekali. Sehingga saya benar-benar mendengar apa yang si bapak bilang. Bahkan sampai saya rekam ke handphone segala (ini adalah tindakan preventif siapa tahu ditengah jalan saya terlelap). Saya menanti si bapak memberitahu jawaban. “Jadi jawabannya, yaaa karena perspektif Finansial itu perspektif terakhir yang dituju.”

Nah lo. Apa bedanya sama jawaban saya tadi?

Saya pun terdiam sepanjang kuliah. Sebal. Karena saya merasa dipermalukan di depan umum. Lalu saya mikir-mikir lagi, jangan-jangan tulisan yang saya tulis tadi berubah secara ajaib jadi coret-coretan benang kusut ala anak TK. Kalo benar begitu, pantas saja saya dianggap memalukan anak TI. Huh, pokoknya saya bertekad, di akhir kuliah nanti saya akan bertanya apa kesalahan saya pada si bapak. Untuk membangun kembali image yang tadi rusak sebelum menghadap, saya pun akhirnya membuka mata lebar-lebar saat kuliah. Semoga kuliah hari ini tidak sampai tiga setengah jam, batin saya.

Singkat cerita kuliah pun berlalu. Saya sigap menuju meja si bapak setelah keadaan kelas agak menyepi. Saya membuka dengan pertanyaan pengantar sebelum menyampaikan maksud baik saya. Saya bertanya tentang hubungan inisiatif strategik, action plan, sasaran strategik, indikator kinerja, level perspektif, sampai tujuan besar perusahaan: Komplit saya gambar manual. Si bapak pun dengan semangat mengiyakan semua yang saya konfirmasikan.

Lalu saya bertanya “Lha kuis saya tadi bener dong pak. Kok bapak bilang malu-maluin anak TI. Bagian yang malu-maluin itu yang mana ya pak?”. Dan si bapak pun menjawab, “Oh iya ya? Saya salah baca kayakya. Nanti saya baca lagi deh.”

Salah bacaaaaaaaaa??????????!!!! Saya mau teriak rasanya. Meledak. Tapi nggak bisa. Cuma diem, dan bilang. “Oh….” memasang muka datar setengah sebal, dan “hmm, yaudah. Makasih pak”. Lalu pergi gontai meninggalkan kelas.

Huh.

Advertisements

14 Comments on “Pada Suatu Kuliah..”

  1. ikram says:

    Segitu terhinanya. Jawaban lo terlalu berbelit-belit mungkin hehehe.

  2. Echi says:

    Hahaha. Pantesan waktu itu, gue liat muke lo super bengong. Baru tau gw ceritanya šŸ™‚

    Trus lo inget gak? Dia bilang gw kayak S2. Jangan2 dia salah liat juga!! šŸ˜€

  3. ray rizaldy says:

    bleh,,,gimana kalo si pak dosen itu salah baca keluhan dari perusahaan2 kliennya ya?

    trus dy memberikan advis, dan langsung dipakai oleh perusahaan tersebut. dan jreng, secara serta merta perusahaan yang memakai idenya bangkrut. pas ditanya, sang konsultan hanya menjawab : “Maaf, saya salah baca” bahhh

  4. ikram says:

    Berarti lo jg bisa bikin perusahaan konsultan kalo kaya gitu Ka.

  5. sawung says:

    modus kali ka.
    modus mau kenalan :p

  6. ikazain says:

    @ikram:
    Gue memang jarang memakai kaidah menulis yang baik dalam perkancahan perkuliahan. Kalimatnya memang terlalu panjang. Berbelit mungkin seperti benang kusutnya anak TK šŸ˜¦

  7. ikazain says:

    @Echi:
    Mending dikira S2 toh daripada oknum yang malu2in TI. Huh.

    @Ray&Ikram:
    Iya, bisa. Bisa kabur semua kalo gue bikin perusahaan konsultan macam gitu.

    @Sawung:
    Udah kawin juga ya, Wung. Secara cincin di jarinya sooo eye-catching.
    Bapaknya nggak nanya nama gue juga.

  8. Nadya says:

    gua juga jadi sebbbeeeeelll…
    huh! *malah manas2in..hehe..

    sabar y ‘ka, mungkin si bapak lagi stress, sampe salah mengartikan jawaban lo..hehe..;)

  9. Batari says:

    Saabar ya ka.. Gue juga kena,dibilang pengen cpt pulang, pdhl cuma ngebenerin dia yg salah bc jam.

  10. ikazain says:

    @ dendi:
    ha.. ha.. juga

    @Nad:
    iya šŸ˜¦ mungkin si bapak lagi capek.

    @Bat:
    tapi ingin cepat pulang juga kan, bat? hehe

  11. antown says:

    kuliah dimana yang pelajarnnya mudah dicerna mbak?

  12. aldud says:

    gapapa ka, gw ama fikri dibilang KORSLET. Padahal jawaban gw itu2 juga hahhaha emang bapaknya kali yang korslet.

  13. ikazain says:

    @antown:
    kuliah apapun yang bisa membanngkitkan passion ke kita, mas.

    @aldud:
    mwahahaha. hmm, saya jadi mengharapkan cokelat sebagai another permintaan maaf. hehe.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s