Surat Kaleng Membuka Koreng

Tanggal 24 Oktober lalu, http://www.kritik-itb.com memublikasikan artikel perihal sebuah surat kaleng. Dijelaskan bahwa surat tanpa pengirim tersebut ditujukan kepada dosen – dosen ITB. Surat dikirim langsung via pos ke alamat rumah para dosen. Di dalam surat itu tertulis beberapa poin yang isinya menunjukkan keterpurukan ITB semenjak berada dibawah kepemimpinan Rektor Djoko Santoso. Boulevard mencoba membuktikan kebenaran beberapa poin dari isi surat tersebut.

***

Telepon berdering. Nomor tidak dikenal muncul pada layar telepon. Saya tekan tombol jawab, lalu meletakkan speaker – nya di telinga.
“Halo, ini adik yang tadi mau bikin janji wawancara Rektor kan?” Suara dari speaker telepon langsung menyahut.
“Oh iya, gimana Bu?”, saya langsung sigap merespon. Inilah telepon yang saya nantikan.
“Bapaknya nggak mau di wawancara kalo tentang surat kaleng, kata Bapak itukan surta kaleng, jadi nggak usah ditanggepin” jelas si Ibu panjang.
“Jadi Bapak nggak mau klarifikasi ya Bu?”, saya meyakinkan sekali lagi.
“Bapaknya nggak mau kalo soal surat kaleng. Ada tema yang lain nggak? Kalau ada, saya bisa atur jadwalnya” jawabnya lagi sabar.
“Oh, nggak usah Bu. Makasih.” Begitulah potongan percakapan saya dengan Bu Upi, sekretaris Djoko Santoso. Dia enggan menyebutkan nama lengkap ketika ditanya untuk keperluan terbitan.

Ditemui di kantornya, Maman A Djauhari, Ketua Majelis Guru Besar ITB, tampak ramah dan penuh senyum menyapa kedatangan saya. Menurut data yang dimilikinya, MGB kini memiliki armada sejumlah 91 orang. Jumlah itu terdiri antara lain dari 10 Guru Besar Emiritus yaitu sebutan bagi Guru Besar yang sudah pensiun dan dinilai jasanya sangat signifikan bagi ITB dan Repulik Indonesia. Tujuh dari mereka merupakan Guru Besar luar biasa yang sudah pensiun, namun tenaganya masih dibutuhkan untuk membimbing calon doktor, dan 74 armada sisanya adalah Guru Besar yang masih aktif mengajar dan melakukan penelitian. “Di ITB itu ada 92 KK (kelompok Keahlian), dalam berbagai kesempatan dimana saja saya selalu bilang bahwa belum semua KK punya Guru Besar” Maman menjelaskan bahwa dalam ART ITB disebutkan bahwa sebuah Kelompok Keahlian dipimpin oleh Guru Besar.

Untuk menghasilkan produk riset yang berkelas dunia, dosen harus dipacu untuk menulis agar karyanya dapat dimuat dalam jurnal internasional. Oleh karena itu untuk menuju ”ITB world class”, Maman menekankan pentingnya peran Guru Besar sebagai pemimpin KK, ”Tapi ya Guru Besarnya juga harus qualified.” katanya sambil tertawa.

Ketika ditanya mengenai surat kaleng, Maman hanya berkomentar “Saya tidak tahu apa maksud surat itu, makanya dari awal saya tidak menjadikan surat kaleng sebagai starting point diskusi kita, surat itu akan sangat bermakna kalau bicara mengenai sistem dan terbuka” Maman mengaku bahwa dirinya merasa tidak dikirimi surat kaleng. Padahal sampai saat ini beliau masih aktif sebagai dosen.

“Kerjaan saya itu mengkritik,” ujarnya. Maman berpendapat bahwa kritik tidak beda dengan statistical process control. Orang yang dikritik harus bisa menangkap kritik sebagai sinyal berupa true alarm atau force alarm. Maksudnya true alarm, kalau kritik itu benar adanya, maka pihak yang dikritik harus segera memperbaiki diri. Sedangkan force alarm adalah jika kritik itu tidak benar, maka pihak yang dikritik harus bisa menjadikan kritik itu sebagai inner force bagi mereka untuk terus memberikan yang terbaik. Maman dengan positif menganggap surat ini sebagai salah satu kritik yang masuk bagi pihak MGB dan dirinya.

Dari MGB Boulevard lalu mendatangi Matematika sebagai salah satu Program studi di bawah Fakultas MIPA. Ketuanya, Saladin Utunggadewa mengaku mendapat surat kaleng “saya baca, tapi sulit untuk diklarifikasi, jadi ya kayak informasi selewat aja.”

Ketika dimintai komentarnya mengenai dosen MIPA yang disebut tidak inovatif dalam proses pembelajaran Saladin mengatakan bahwa dosennya terus berusaha memberikan yang terbaik. “Bukan masalah inovatif atau nggaknya..”

Menurut Saladin, itulah usaha terbaik yang mereka bisa. Matakuliah Kalkulus contohnya, yang notabene mendapat prioritas utama karena menjadi salah satu dasar pengetahuan bagi mahasiswa ITB. Kalkulus diatur hingga punya koordinator sendiri, ada rapat koordinator rutin, dan ada pertemuan dosen rutin yang tidak hanya dihadiri oleh dosen kalkulus saja.

Beralih ke Majelis Wali Amanat, Haryanto Dhanutirto selaku ketua berujar “Kalau tentang surat kaleng saya nggak mau komentar, baca aja saya nggak mau. Adik tanya saya jawab, tapi kalo komentar saya nggak mau”.

Salah satu poin dalam surat kaleng itu menyebutkan bahwa ART ITB 2008 turun sebesar 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Ah nggak bener itu, wong hasil raker-nya aja baru keluar tanggal 4 Desember kok, ada ada aja” bantahnya dengan logat jawa kental.

Menurut Haryanto, ART ITB biasanya selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Keuangan ITB yang berasal dari kantong mahasiswa jumlahnya hanya sebesar 25-30 %, tidak seperti UI yang mencapai 80%. “Mau kamu saya buat jadi kayak gitu?” tanyanya. Mengenai angka 10% untuk mahasiswa TPB yang DO tiap angkatannnya, Haryanto menjawab ”ga ada itu, mana sini datanya kalo ada saya mau liat” ujarnya penuh keyakinan.

Tentang poin yang menyebutkan restrukturisasi ITB tidak berarah, Haryanto hanya menjawab bahwa itu urusan eksekutif, dan sejauh ini selalu ada pemberitahuan pada MWA maupun senat akademik. “Nggak ada itu yang namanya mutasi paksa..” tambahnya. Haryanto menyangkal kebenaran mengenai pemecatan intimidatif terhadap Dekan, Ketua Program, Pejabat LAPI, Ketua Pusat Penelitian, termasuk Ketua Kelompok Keahlian, “Siapa memang yang dipecat sini, kasih tau saya, kalau ada yang di pecat seperti itu biar saya yang bela! Lagipula makna dari pemecatan intimidatif itu apa? Kalau Rektor ngasih policy yang memang harus dituruti apa bisa dikategorikan menjadi tindakan intimidatif?” dia balik bertanya.

Kemudian Boulevard datang ke Sugiarto, staf komunikasi eksternal. Maksudnya untuk mengkonfirmasi poin “Djoko keseringan ke luar negeri”, tapi tak disangka dia malah banyak bercerita mengenai kampus riset industri di Delta Mas Bekasi. Tentu saja seperti narasumber lainnya, dia menegaskan bahwa obrolan ini bukan bertolak dari isi surat kaleng, ”kalau anda titik tolaknya surat kaleng saya tidak bisa kasih jawaban” begitu komentar Sugiarto.

Dia menjelaskan bahwa pendanaan pendirian kampus tersebut memang tidak menggunakan uang ITB. Ide pembangunan kampus tersebut adalah bagaimana agar industri di kawasan tersebut tidak sekedar kumpulan pabrik, namun ada Research & Development yang dikembangkan disitu. Dan kegiatan yang akan berlangsung di sana antara lain adalah riset industri, perkuliahan pasca sarjana ITB terkait riset industri, dan pelatihan-pelatihan. ”Saya ini sekretaris tim keseluruhan dan ketua tim penggalangan dana” ujar Sugiarto mantap.

Ketika kembali dimintai data mengenai keberangkatan Djoko Santoso ke luar negeri, Sugiarto menjawab ”Sebenarnya yang tau banyak itu ya Bu Upi (Sekretaris pribadi Djoko Santoso), tapi kita kan bawahan. Kalau pimpinan nggak mau kasih komentar, kita ya harus nurut.”

Boulevard sempat mendatangi beberapa dosen untuk mengkonfirmasi apakah benar mereka mendapat surat ini. Hidayat, seorang dosen Program Studi Matematika mengaku juga mendapat kiriman surat kaleng ke rumahnya, “Iya saya dapet, suratnya bagus (tampilan, red), di bungkus rapih, di kasih perangko, coba berapa itu biayanya”. Dilihat dari tampilan surat, sang pengirim memang terhitung penuh persiapan dan bermodal dalam melaksanakan aksinya. Bagaimana tidak, amplop dan kertas surat yang khusus dicetak berwarna, serta perangko seharga Rp1500,- , tentunya memakan cukup biaya bila dikirimkan untuk dosen ITB yang jumlahnya tidak sedikit. Entah apa motif di balik beredarnya surat kaleng ini.

Hidayat juga memastikan bahwa hampir setiap rekannya sesama dosen di Matematika menerima surat tersebut, “Saya kira yang tua-tua aja tapi ternyata yang muda juga dikirimi”, ceritanya. Namun ketika dimintai komentarnya tentang surat tersebut beliau langsung buru-buru pergi sembari berkata “Ahhh…udah tua saya, 2 taun lagi pensiun. Tanya yang muda-muda aja!”

“Kayak info seliwat aja..” begitu komentar Muhammad Sutarno. Sutarno adalah dosen yang mengaku orang pertama yang memperoleh surat kaleng di program studi tempatnya mengajar, Teknik Industri. Sutarno mengatakan bahwa surat kaleng tersebut sampai ke rumahnya sekitar pertengahan November. “Ke-shohih-annya (tingkat kepercayaan, red) lemah, itukan sumbernya nggak jelas, beda kalau dia ceritakan dapat info nya dari mana. Harusnya kamu tanya ke rektor..” begitu katanya.

Ketika diberitahu bahwa Djoko enggan diwawancara, Sutarno berkomentar “Kalo nggak bener harusnya ditanggepin dong, kalau didiamkan seolah-olah dibenarkan, kalau ada berita dan ternyata nggak benar mestinya dinyatakan nggak benar. Bukan masalah surat kaleng atau tidaknya, kan pimpinan lebih tahu, kalau intinya nggak bener ya di tanggapi” []

(Boulevard Edisi 59, Wawancara oleh Dwi Arryma Niza, Tulisan oleh Dwi Arryma Niza & Fadilla Tourizqua Zain)

ps: Versi sebenarnya dari edisi cetak. Maaf sebesar-besarnya untuk Nise. Tulus dari hati saya yang paling dalam. Inilah versi terakhir yang ada di komputer saya.

Advertisements

21 Comments on “Surat Kaleng Membuka Koreng”

  1. ikram says:

    Oh, jadi ada surat kaleng ya?

  2. yasmin says:

    wah, cara baru promosi Boulevard nih Ka? Salah satu beritanya diedarkan di internet? Hehe.

  3. ristiyan says:

    kok keknya pada ga peduli ma surat kaleng itu y? sayang bgt ga diattach isi surat kalengnya.. -_-

  4. ikazain says:

    udah di link kok Ristiyan, langsung ke kritik ITB-nya. Beli atuh versi cetaknya 🙂

  5. ristiyan says:

    jgn panggil ristiyan ah,.jadi malu.. :shy:
    okey, awa donlot.. 🙂

  6. ikram says:

    Itu paragraf pertama baru ditambahkan ya?

  7. ikazain says:

    hahahaha.. copy pastenya dari halaman 2. kelewat.

  8. amaliarahmah says:

    nggak ngerti ka.. hu hu hu..
    aku mah nggak peduli ma surat kalengnya..
    berat..
    yang penasaran, kenapa ika minta maap ma penulis satunya..

  9. batari says:

    Dwi Arryma Niza sama Nise itu orangnya yang sama bukan?

  10. ikazain says:

    yap, betul sekali batsky.

  11. dwihutapea says:

    duh..ika…
    tar orang2 pada ga beli boul lagi..
    harusnya tar aja dipostingnya..pas jualannya uda beres..
    nise bisa gw urus lah…hehehee

  12. ikazain says:

    seperti kata Yasmin, Wi. Ini teknik marketing yang dilancarkan guna orang2 membeli Boulevard. Kalo satu artikel ini aja oke, apalagi yang lain, ya kan ya kan? 🙂

    Ayo yang belum beli Boulevard 59!! Cepat sikat, sebelum kehabisan.

  13. dwihutapea says:

    ayo beli boulevard!!!
    jadilah pembeli boulevard 50 terakhir…hueheheee

  14. nise says:

    makasi ya ikaaa

  15. ikazain says:

    heh, ada penulisnya. hehe.

  16. rockerbad says:

    Stuju ama P’Sutarno…
    kalo emang ga bener harusnya ya ditanggepin lah, bilang kalo itu cuma mengada-ada saja…

    kecuali ya…
    kalo susah menghilangkan bukti-bukti..

  17. ray rizaldy says:

    hahaha, akhirnya daku komen juga…
    ikutan minta maaf deh sama nise dll., maaf telah meninggalkan kalian selama masa intensif mau terbit. hehehe

    versi cetak laku keras lho!!!

  18. Echi says:

    Good for U. Cetakan bisa turun kualitas, gan berlaku buat isinya.

    Ck..ck

  19. yasmin says:

    wah, kalo gue jadi nise pasti udah kesal luar biasa sampe mau meledak. haha. *berusaha memprovokasi

  20. Lee says:

    Hah surat kaleng???
    Pasti kerjaan anak seni grafis
    Bisa2nya bikin surat di kaleng
    Nih gua buang saja.. klontangg!!

  21. Ujang Rauf says:

    Perihal surat kaleng seharusnya memang bisa diberikan wadah dengan baik sehingga surat kaleng muncul dalam bentuk yang membangun.
    Kita Ambil contoh Jepang. Di Jepang ada sebuah mekanisme yang setiap murid diberikan kebebasan memberikan keluhan, saran, kritik dan masukan perihal institusi pendidikannya. Mekanisme itu disebut BLUE BIRD
    atau AOI TORI dalam bahasa Jepang. Kemduian kotak itu dibuka seminggu sekali yang dihadiri para wakil dari setiap kelas dan guru wali murid setiap kelas. Dibuka dan dibacakan dihadapan mereka. Surat yang memberikan masukan yang membangun dipilih untuk dibcakan kemudian didokumentasikan untuk dilakuakn perubahan dalam mingu ke depan. kemudian Surat-surat yang tidak membangun yang bersifat ejekan yang tidak solutif merupakan yang dibuang. Dan itu akan menjadi etika yang buruk di lingkungan sekolah.
    Dengan demikian guru dan murid bisa saling mengemukakan enek-enek yang tersalurkan dan bersifat membangun dan efesien ketimbang murid2 melakukan demonstrasi. Di Jepang tidak diperkenankan melakukan demonstrasi.
    Demonstrasi justru menunjukan bahwa fungsi-fungsi pranata hukum, aturan dan komunikasi mengalami kebuntuan.

    Salam

    Ujang Rauf
    Hokkaido Universty
    Transportation Engineering


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s