Semua Ada Saatnya

Saya yakin hampir semua orang pernah mendengar kata market leader. Kalaupun tak pernah dengar kata tersebut, paling tidak rata-rata orang Indonesia berprilaku sama terhadap produk-produk yang keluar duluan di pasar. Aqua biasanya jadi contoh yang lazim. Apapun merek pada kemasannya, customer biasa menggeneralisasikan merek Aqua. Mau merek yang dijual Ades, VIT, atau Ron 88, tetap saja mereka meminta dengan, “Aqua”. Kalaupun akhirnya penjual tidak memberi merek yang dimaksud, biasanya pelanggan tidak protes. Pokoknya setahu mereka air minum kemasan itu ya namanya Aqua. Kasus serupa terjadi pada beberapa merek seperti Pepsodent, Indomie, atau Infokus.

Boulevard adalah market leader di perkancahan pers mahasiswa kampus ITB. Keuntungan dari market leader pada umumnya adalah menancapnya brand image yang kuat ke konsumen. Sayangnya, nasibnya Boulevard tidak seperti Aqua. Walau tampil sebagai leader, sial buat Boulevard karena tak bisa meraih keuntungan tadi.

Boulevard punya kompetitor yang memilih nama generik. Kalau balik lagi ke kasus ‘Aqua’, maka merek generik yang dimaksud adalah merek ‘Air Mineral Kemasan’. Kalau mau mengacu ke kasus ‘Indomie’, maka merek generiknya ‘Mie Instan’, dan seterusnya dan seterusnya. Sayang sekali ya, Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang merek (UUM) tidak turut berlaku masuk ke kampus.

Lawannya market leader adalah pemain baru. Hahaha, saya tak tahu istilah asingnya. Pemain baru biasanya tampil dengan tawaran ‘Second but Better’. Mereka punya perhitungan akan sukses ‘mencuri ’ beberapa persen pasar leader, yang ini istilahnya market share. Makanya CocaCola Company menurunkan produk Frestea dengan harapan menyaingi Nu Green Tea, leader teh hijau dalam kemasan. Frestea menawarkan varian buah dan tambahan sensasi dingin di tenggorokan (cooling essence). Nu Green Tea tak mau kalah, setelah mengeluarkan versi madu dan less sugar, mereka juga mengeluarkan rasa jeruk dan apel. Hoho, seru kan. Semuanya dilakukan demi merebut pasar.

Kembali ke ITB, baru-baru ini produk Boulevard kedatangan kompetitor. Namanya Ganeca Post. Kontennya sama-sama tentang kampus. Hanya beda kemasan. Boulevard dikemas dalam tabloid, Ganeca Post dalam format koran. Ganeca Post menawarkan informasi pop, lebih ringan dibanding konten Boulevard. Mereka juga memasang harga lebih murah, setengah dari harga Boulevard. Mungkin inilah sisi ‘better’ yang ditawarkan penerbitnya. Si penerbit yang biasa melepas produknya ke luar kampus, kini turut melebarkan sayap masuk kampus.

Sisi postifinya kini mahasiswa ITB memiliki beberapa saluran untuk memperoleh informasi. Pembaca jadi punya pilihan. Lebih banyak terliterasi dan menerima input informasi. Ini jelas hal yang bagus. Woops, tapi dalam persaingan merebut hati pasar, saya yakin Boulevard tidak tinggal diam. Ini memang saatnya Boulevard punya kompetitor produk. Mari kita lihat bagaimana Boulevard bereaksi, dan bagaimana Ganeca Post mempertahankan keeksisannya.

Selamat untuk Pers Mahasiswa atas terbit perdana Ganeca Post. Kami menunggu terbitan selanjutnya.

Advertisements

9 Comments on “Semua Ada Saatnya”

  1. aldy pratama says:

    kok beberapa konten posting ini mengingatkan akan sebuah mata kuliah sistem pengembangan produk minggu ini ya??
    hahahaha peace ka!!

  2. ikram says:

    Dan pada akhirnya, keputusan ada di tangan konsumen alias pembaca 🙂

  3. leksa says:

    hmm…
    Boul juga bikin gebrakan laahhh….
    jangan mau kalah…

    masalah “Branding name/image”,
    jika emang ngerasa pantas untuk dituntut coba aja..
    itung2 belajar hukum .. 🙂

  4. ikazain says:

    @aldy:
    Yooiii, predoooo! Boulevard bener2 jadi kalinci percobaan gue dalam menerapkan segala ilmu, gyahaha.

    @ikram:
    betcyuul sekali bung ikram. Keputusan preferensi mutu produk memang selalu ada pada konsumen. Huhu, pembaca adalah raja.

    @leksa:
    hmm, mungkin mas leksa bisa bantu. kira-kira kalo mau nuntut kemana yaa.. (evil mode: on)

  5. iyra says:

    Lawannya market leader adalah pemain baru. Hahaha, saya tak tahu istilah asingnya.

    new entry…istilahnya…

  6. ikram says:

    dan selama kompetisi berjalan sehat, pembaca juga kok yg diuntungkan dengan beragamnya media.

    pesanterselubungmenolakintegrasimedia.

  7. ray rizaldy says:

    ayo semangat…semangat,,,
    bikin boulevard seperti aqua..
    klo ada orang mw beli majalah/koran (misal mw beli ganeca post) bilangnya “mas mau beli boulevard donk”,
    mungkin nggak ya…gyahahhaha

  8. Echi says:

    Yaaa.. kau ini.Percuma lah kita udah ngerjain Marketing Plan-nya TELKOM DIVRE III JAWA BARAT. ILmu itu kan bisa jadi senjata buat Bouls juga, Bu.

    *Mahasiswa ITB punya konstitusi sendiri untuk memilih yang terbaik menurut mereka. SO, jadilah yang terbaik kalo mao dipilih. Betul?

  9. yasmin says:

    wahahaha… iya nih, akhirnya ada saingan bagus buat kita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s