Dosen Wali VS Program Sialan

Semester ini notabene akan jadi semester terberat di TI. Saya yakin saja. Apalagi pernah dapat cerita tentang seorang mahasiswa TI Trisakti. Pada semester itu dia meninggal karena keasyikan kuliah sampai tak peduli makan dan tidur. Haha, semoga saya tidak sampai begitu.

Meski banyak orang bilang berat, tapi saya nekat ambil SKS lebih. Ada matakuliah tingkat 3 lalu dimana saya mendapat hasil akhir C. Saya ambilah kuliah itu di formulir rencana kuliah saya. Kemudian ada matakuliah lain, masih kuliah tingkat 3, si dosen salah beri nilai buat saya. Habis merengak sama tuh dosen, jadilah dia suruh saya ambil matakuliah dia lagi, tapi tak perlu masuk kuliahnya. Haha, saya senang.

Oke, tang ting tung duar ternyata total SKS yang saya ambil 23. Hah, banyak juga yaa. Padahal IPK saya cuma 2.72. Di kampus saya, ada peraturan IPK lama harus 2.75 untuk mengambil 20 – 22 SKS. Dan untuk mengambil 23 SKS, persyaratannya harus IPK 3.00. Saya jelas-jelas tidak masuk kualifikasi bahkan untuk mengambil 21 SKS. Dengan takut-takut saya maju juga ke Dosen Wali. Dengan penjelasan dan perayuan sedikit panjang lebar, dia kasih approve ke saya. Haha, saya tambah senang.

Prosedur selanjutnya tinggal mengambil KSM. Dan lalu mulai kuliah, ah tenaaang. Tapi tak disangka tak di duga.

“Fadilla Tourizqua!” kata operator pendaftaran. Saya langsung menghampiri,

“Mbak, ini SKS-nya lebih”, katanya. ‘Saya juga tahu mas’, dalam hati saya.

“Kan udah ada surat SKS lebihnya”, kata saya lagi.

“Tapi ini surat SKS 21 – 22, bukan 23” kata si mas. Lalu saya memberi penjelasan lagi bahwa 2 SKS yang saya ambil itu palsu. Hanya diambil tapi tak diikuti. Yaa, karena kesalahan dosen saya tadi.

“Tapi IPKnya nggak cukup. Programnya me-reject otomatis.” Keluh si Mas lagi. Yee, kalo gini mah, bukan masalah surat atuh Mas. Ini masalah IPK.

Saya masih tetap berargumen bahwa Wali dan Kaprodi saya mendukung. Saya tunjukkan lagi tandatangan mereka dan segala catatan dari Wali saya. “Ini bukan masalah Wali setuju apa nggak, Mbak. Masalahnya programnya emang nolak cetak kalo nggak sesuai peraturan. Walau udah di-approve.”

Walau saya dapat approve dari Presiden sekalipun, itu program nggak akan mau cetak KSM saya. Huh, sebal. Saya memang bukan mahasiswa yang pintar-pintar amat, tapi Wali saya kan lebih mengenal saya dibandingkan program pendaftaran sialan itu.

Advertisements

13 Comments on “Dosen Wali VS Program Sialan”

  1. Echi says:

    Masih mending gw duonk ka. Ini cerita gw:

    1. Yessi Pratiwi…
    [Ya Mas?]

    Mbak k bagian keuangan.
    [Gw beranjak k bagian keuangan, dia minta bukti bayar SPP]

    2. Yessi Pratiwi…
    [Ya Pak?]
    Koq ini SPP nya cuma bayar 200 ribu?
    [Iya Pak, itu sumbangan aja. SPPnya dibayarin sama beasiswa ITB].
    Oh, yaudah tunggu dipanggil.

    3. Yessi Pratiwi…
    [Ya Mbak?]
    Formulir perwaliannya mana?
    Tunggu dipanggil lagi.

    4. Yessi Pratiwi…
    [Ya Mbak?]
    Coba diperiksa mata kuliahnya, kelas, bener 21 SKS/ nggak. Tandatangan 2 kali disini dan disini, foto tempel disini.
    [Ok..ok..]

    Akhirnya KSM gw terima. Sepertinya gw jadi mahasiswa terakhir yang nerima KSM sore itu.. :))

  2. aldy pratama says:

    yahh..itulah itb ka..
    orang-orang (yang katanya) teknik tapi sering direpotkan sama ciptaannya sendiri..
    liat aja tawes di deket tu

  3. aldy pratama says:

    lanjutan (ga sengaja mencet enter heuhehe..)
    ti..masa atepnya lurus..rus..rus begitu..aer hujan ga bisa turun kan??
    heuhehehe..ga nyambung yahh??

  4. batari says:

    programnya terlalu pintarr 🙂
    anw, jadinya lo ngambil berapa sks?

  5. ikram says:

    bersyukur dong masih bisa kuliah.
    *berlinang air mata hahaha.

  6. qbl says:

    itulah, semakin lama saya kuliah di IF, semakin kagum sama makhluk yang punya intelegensia (untuk berpikir) dan hati (untuk mentolerir), tidak seperti program. program SI-X yg kita pake buat FRS itu, jangankan punya hati, punya intelegensia buatan saja tidak! hehe. IF banget yak? makanya semakin kagum juga saya sama Yang Maha Menciptakan Makhluk.

  7. ray rizaldy says:

    koq temen2 gw banyak yang bisa ya?
    biar ipnya semester lalu worse than mine
    they can took more than 20

  8. ikazain says:

    hohoho, maaf ya. Akhir2 ini saya agak malas mengutak-atik blog. Okkey dokkey, let’s get back to the jungle.

  9. ikazain says:

    @Echi:
    Udah terima KSM terakhir, sekarang suruh balik ke kelas semula ya Chi? Hihi, kita bakal sering sekelas lagi nih.

    @Aldy:
    Nyambung-nyambung aja sih Predo. Walau agak maksa. Orang kalo udah kepinteran bisa mengesampingakan hal humanis ya.

    @Bat:
    Hati-hati ya, Bat. Jangan pintar-pintar, hahahaha.. 😉

    @Ikram:
    Sekarang udah nggak berlinang air mata kan, Kram? Jadi kitaa lulus bareeng, uhuy! Nggak jadi lo jadi soulmate Didot.

    @Qbel:
    Huuu, iya tuh Bel. Anak IF yaa! Kan kalian belajar Artificial Intellegent. Cuh..cuh.. *kok jadi sebel sama IF sih.

  10. ikazain says:

    Cuh, ternyata programnya udah dodol, pilih kasih pula. Siapa Ray yang bikin program? Sini kasih tau gue. 😦

  11. korban SI-X says:

    Baru baca nih blog ttg PML… menarik… menarik…

    Program itu dibuat atas peraturan dari ITBnya sendiri. Kalo mbak mau protes silakan protes ke aturannya ITB.

    Jika kaprodi dan dosen wali mbak meng-approve mahasiswa yang sebenarnya dalam aturan dalam kondisi tidak boleh di-approve, jangan salahkan program jika menolak… Sekali lagi program emang dibuat based on peraturan yang ada tanpa bisa nego-nego… Salahkan kaprodi dan dosen wali Anda yang ‘menyalahi’ aturan ITB…

    Sebagai informasi, dosen wali dari program studi Teknik Industri (134) mencetak rekor dengan tidak meng-approve 300-an mahasiswanya secara online.

    So jangan mengeluh kalau Anda lama dipanggil saat pencetakan KSM. Salahkan wali Anda yang mengapprove Anda secara manual, not online. Program studi lain yang perwaliannya di-approve secara online, pastinya akan lancar-lancar saja.

    Kalau nanya siapa yang buat program… wah… itu yang buat satu sistem ada banyak orangnya… mbak protes di program yang mana nih? Yang buat udah >4 generasi…

    Program pilih kasih? hahaha… pasti Ray gak mengasih informasi yang lengkap kenapa sampai yg punya dia lewat dan yang punya mbak nggak…

    Yang namanya program gak bisa pilih kasih… mesin gitu… bego… yang pintar mah manusia… atau mbak mau kembali ke zaman yang FRSnya dicek manual? dicetak manual? Bisa jadi usulan buat ITBnya nih… Atau mbak mau mengusulkan diri jadi tim yang ikut mengembangkan sistem?

    Untuk PML ke depannya… pastikan ke dosen wali bahwa Anda sudah di-approve online (bukan sekadar tanda tangan di form perwalian) dan pastikan status keuangan Anda sudah tidak bermasalah. Dijamin ngambil KSMnya lancar.

  12. JF says:

    Salam kenal dari yang bikin program.
    Fyi, programnya dibuat berdasarkan peraturan akademik, dan yang seperti diketahui kalo ipk kurang ya ga bakal bisa lolos validasi meskipun ada surat sks lebih. Anomali untuk hal ini bervariasi. Yang terpaksa harus diloloskan adalah mahasiswa yang mengambil lebih karena terpaksa. Misal: sks kurang, tapi dah tahun terakhir, kalo ga ngambil semester ini bakal DO.
    Yang dijawab oleh Ray mungkin termasuk mahasiswa golongan itu.
    Semoga memberi pencerahan, atau kalau kurang puas silakan kirim email ke infoakad@akademik.itb.ac.id

  13. Arie says:

    OMG… I love this thread!

    *Dari generasi ke-5 SI-X. LOL…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s