Marketing in Venus

Ini bukan tentang buku Hermawan Kartajaya. Ini cerita tentang pelayan wanita.

Langsung saja, menurut saya tempat yang punya pelayan wanita cantik adalah Pizza Hut. Saya memang tidak banyak berjalan-jalan ke pertokoan. Tapi sejauh saya bepergian, saya suka dengan mbak-mbak Pizza Hut.

Banyak kategori pelayan wanita yang menarik buat saya. Satu, tubuh elok dipandang. Tak apalah kalau tak ideal tinggi dan berat badan, asalkan kostum yang digunakan sesuai. Saya suka istilah ibu saya kalau sedang meledek mereka, “Kayak lontong kebanyakan isi ya, mbak?” haha, saya nyengir saja.

Dua, make up. Tak jarang saya melihat pelayan wanita beralis tinggi. Waduh, bukannnya alis tinggi bikin wajah terlihat antagonis ya? Nanti pelanggan malah pada kabur. Yang terakhir adalah senyum. Manusia mana yang emoh dikasih senyum. Senyum menunjukkan keadaan welcome, diterima. Wajah tak molek pun rasanya manis saat tersenyum.

Kapan sebuah perusahaan atau toko membutuhkan pelayan wanita? Saat target market produknya adalah pria? Masuk akal. SPG rokok yang suka keliaran di Dago saban malam minggu, misalnya. Tak diragukan lagi mereka sexy nan ahoy. Lagipula sebagian besar perokok di Indonesia saya rasa masih dipegang oleh laki-laki.

Tapi teori ini sudah runtuh. Tak hanya pria yang tertarik dengan pelayan wanita. Toh, saya suka dengan mbak-mbak Pizza Hut. Dan Pizza Hut target marketnya bukan hanya pria. Dan saya semakin menyadari bahwa teori ini runtuh pada suatu hari.

Bos, seorang karyawan, dua teman KP, dan saya, suatu hari sedang melihat prilaku pasar tentang produk kami. Sistemnya biasa, sebar kuisioner. Pulangnya, kami mampir ke toko obat cukup besar. Si bos hendak membeli permen pelega tenggorokan.

Saya duduk berdampingan dengan seorang karyawan, sebutlah namanya mas Deni. Di depan kami mbak-mbak penjaga toko berkumpul. Ada yang sedang memperbaiki make up-nya, ada yang sedang ngerumpi, pokoknya lagi santailah. Lalu saya membuka diskusi sama mas Deni, “Kalo orang beli obat, berarti kan dia lagi sakit ya, mas. Asumsinya keadaan darurat. Jadi mereka nggak akan peduli mbak-mbak yang jualan cantik ato nggak, sexy ato nggak. Pokoknya asal dapet obatnya cepet aja,” kataku. “Nggak juga, ah” kata mas Deni. Saya langsung menatapnya, meminta penjelasan. Mas Deni mulai memberikan alasan, “Kalo kita lagi bengong nunggu kaya gini, kan ada yang bisa dilihat-lihat.”

Saya nyengir saja, “Iya yaa.. Hehe.”. Rupanya konsumen macam mas Deni inilah yang dipertimbangkan banyak perusahaan.

Advertisements

9 Comments on “Marketing in Venus”

  1. taufik says:

    asik jd komentar pertama hehe…

  2. djafar says:

    ehehehe,
    sepakat gue sama tu mas deny,:D

  3. ikazain says:

    @taufik: Ih, numpang eksis doang. Jadi suka pelayan wanita di mana, mas?

    @djafar: me-refer dari postingan lo sih, percaya deh gue jar.

  4. aldy pratama says:

    ahh..wanita..memang permata dunia..(apeehh!!)

  5. Fathah says:

    SPG??
    saya paling sebel sama SPG di toko kompie yg sotoy abis ttg spec suatu produk…
    ————————–
    SPG??
    saya paling sebel sama SPG rokok yg nawarin di pinggir jalan tiap malem minggu dgn pakaian “mencolok”…
    ————————–
    SPG??
    saya paling sebel sama SPG di pameran kompie dgn pakaian “kekurangan bahan”… membuat acara hunting peripheral murah teralihkan ke acara hunting SPG… ^^ bwahahaha…
    ————————–
    SPG??
    bikin hidup lebih hidup :p

  6. ikazain says:

    gyohoho, maaf baru buka lagi.
    @aldy: permata dunia? hmmm… tapi jaman sekarang nggak sulit juga nemu cewe yg mahalnya macam permata. kikiki..

    @fathah: i see. Segerah-gerahnya cowo sama SPG yang otaknya dodol, tapi pasti ada bagian yang dinikmati.

  7. mandhut says:

    setau saya.

    kalo pizza hut terkenal dengan kesopanannya.

    kalo yang cantik2, mbak2 blitz tuh lumayan.

    yang paling kesian tuh mbak2 solaria, mana lenje, gak semangat, tidak catchy (gak bisa bilang jelek) tapi restorannya teteup aja laku. mungkin karena makanan Solaria enak dan terjangkau? wahaha.

    topiknya menarik. lam kenal ya! hohoho

  8. ikazain says:

    Sepakat sama manda. Solaria enak dan terjangkau.
    Tapi dibanding pelayannya, gue lebih gerah sama speaker musik yang volumenya Na’uzubillah. Bahkan saat pelayan ngulangin pesanan pun gue cuma bisa liat mulutnya komat-kamit.

  9. dzaia-bs says:

    blogwalking…
    mampir nih, habis judulnya bikin penasaran…

    ya, target market sekarang memang (kebanyakan) seperti wanita (kaya’ Mas Deni itu) : ingin dimengerti… itu kan maksudnya? -sotoy mode-
    tp karena pasarnya sendiri adalah laki2, mungkin judulnya perlu dirubah dikit, mungkin jadi Marketing in Mars?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s