Bukan Anak TK

[Handphone bergetar]

“Halo,”

“Mbak, nanti ada anak temen mama yang mau numpang di kosan ya. Mau USM. Tolong SMS ke mama alamat lengkapmu. Nanti mama kasih nomormu ke dia. Cepet ya segera, alamatnya.” Ternyata mama. Langsung pada pokok pembicaraan.


“Whooaaammm,
hah? Apa, Ma? Ya ya..”

Itulah dampaknya
kalau terima telepon setengah sadar. Saya tak ingat betul ngomong apa waktu itu. Pokoknya yang nyantol di otak saya, ada anak SMA, mau USM, terus numpang tidur di kosan.

Setelah tanya-tanya sekitar, ternyata USM berlangsung Sabtu-Minggu taggal 2-3 Juni ini. Sampai hari Kamis minggu itu, saya belum dapat kepastian si tamu mau datang kapan. Ini masalah buat saya. Saya adalah orang yang cenderung jarang diam di kosan. Nggak lucu kalo si tamu nantinya jamuran karena nunggu saya pulang.

Dengan alasan itu, jadilah si mama saya rongrong pertanyaan tentang waktu kedatangan si tamu. ”Nanti juga nelpon kamu sendiri. Tunggu aja.” kata Mama. Malam Jumat akhirnya saya dapat telepon,

”Halo, ini mbak Ika ya?”

”Halo, ya Tante.” Saya pikir saya akan mendengar suara bocah SMA.

“Ini Ibu Samirah, temennya mama” Bukan nama sebenarnya nih.

“Oh ya, Tante.” Jawab saya, tak kreatif.

“Tante sama anak tante mau………….” Panjaaaang banget.

Dan lagi-lagi saya hanya menjawab “Ya, Tante.. Ya..Ya..” Dari percakapan tersebut, adalah pernyataan terakhir si tante yang bikin saya shock.

”Oke mbak Ika, nanti kita berjuang bersama ya! Sampai ketemu. Assalamualaikum..” Heh? Berjuang bersama? Maksud?

Panik. Saya langsung sms mama.

Ma, yang mau dateng ke sini anaknya, ato sekalian sama
ibunya juga?

Sent.

1 Message received.

Cuma anaknya doang kok. Tenang aja.

Pfhuuuh.. Kirain.

Esok paginya, saya terima sms lagi dari mama.

Setelah mama tanya lagi, katanya mamanya mau nganter.
Nggak tega.

Mampus. Saya akan kedatangan sepasang ibu anak dari antah berantah. Mereka tak tahu rupa saya. Saya tak tahu rupa mereka.

Sudah kurang lebih 3 tahun saya kuliah di ITB, nggak pernah ikutan repot sama urusan USM. Wong masuk aja pake jalur masyarakat (baca: jalur murah). Tahun ini tiba-tiba dapet ’paket kiriman’.

Sehari sebelum USM berlangsung, saya bersama 3 orang teman-teman Boulevard berkunjung ke teman-teman Pers UPI Ledeng. Perjalanan keluar dari kampus jadi sesi pengamatan kami berempat. Kampus lebih ramai dengan keluarga yang lalu lalang. Lebih mirip
tempat wisata deh pokoknya. Survey tempat ujian si anak pastinya. Sesekali kami iseng men-dubbing percakapan mereka, ”Ini lho, nanti mbak yu-mu akan sekolah di sini.” hahahahaha..

Saya heran sama keluarga-keluarga ini. Baik yang saya liat di kampus atau tamu saya nanti. Anak udah mau kepala dua kok orang tuanya masih nggak tega ngelepas aja.

Sebelum saya kuliah di sini, dulu saya ikut UM UGM Yogya. Tesnya bareng teman-teman satu bimbingan belajar. Wajar kalo orang tua nggak ikut mengantar. Beruntung waktu itu saya di terima. Saat urusan daftar ulang, saya berjuang sendiri. Bimbingan belajar nggak mungkin ada acara daftar ulang bersama. Solusinya, saya mencari teman satu kelas yang senasib dengan saya. Dapat. Kami berdua naik Fajar Utama dari Jatinegara. Disinilah yang namanya teman tuh terasa banget dibutuhkan. Di sana kami numpang di rumah seorang teman juga. Yang bikin nggak enak, dia juga niat masuk UGM, tapi nggak lolos UM, jadi nunggu SPMB.

Alasan nggak enak tadi juga yang bikin kita nggak mau minta anterin ke UGM. Jadilah kita bergelandang di tengah Yogya. Pokoknya selama Rupiah dan Bahasa Indonesia masih berlaku, kita yakin nggak akan nyasar lah. Sudah dapat jaket almamater, KTM, Asuransi Kesehatan Mahasiswa, dan tetek bengek lainnya, kami pulang ke Jakarta.

Sekarang saya dan teman bergelandang saya itu kuliah di kampus ini. Dia jurusan Teknik Sipil. Saya terdampar di Teknik Industri. Waktu daftar ulang di Sabuga kita juga bersama. Karena nggak ada persiapan kuliah di Bandung, kami belum punya tempat tinggal. Kelar urusan Sabuga, kita kalang kabut cari tempat ‘tidur sementara’. Dapat di asrama putri Kanayakan. Mereka memang menyediakan kamar sementara untuk
mahasiswa baru yang belum dapat tempat tinggal tetap. Di sana kami hanya berenam. Saya berpikir. Dari sekitar 3000 orang angkatan saya yang baru masuk saat itu, cuma 6 orang putri yang belum dapet kosan?
Wow, apa kami berenam ini yang memang kurang prepare ya.

Kami survive-survive aja tuh tanpa dianter orang tua. Saya dapat cerita dari Ikram. Dulu zaman OSKM sebelum 2004, pernah pesertanya disuruh bawa balon. Banyak juga orang tua yang kawatir melepas anaknya waktu itu. Mobil orang tua berjejer, dari jendelanya melongok kepala-kepala kawatir. Sesekali melambaikan tangan. Lalu Kusmayanto, Rektor ITB zaman itu, berkata “Bapak-bapak, Ibu-ibu pengantar, silahkan pulang. Anaknya di sini mau jadi mahasiswa kok, bukan anak TK” Begitulah kira-kira esensi pengumumannya.

Advertisements

9 Comments on “Bukan Anak TK”

  1. ikram says:

    Tante Samirah, saya nggak ikut-ikutan loh. Kalaupun nama saya kesebut-sebut itu juga nggak sengaja!

    *buang bodi

  2. ikram says:

    Wah pake moderasi sekarang?

  3. ikazain says:

    Enak aja, kram. Gue dapet ceritanya kan dari elo. Haha

  4. batari says:

    minggu lalu, pas gua lari pagi di sabuga, gua liat banyak banget bapak2 ibu2 mengantar anaknya mendaftar. trus, yang lucu, ada bapak satu, si bapak ini kayaknya gak sabar nunggu anaknya ngantri. jadilah dia membuang waktu dengan lari di track sabuga.

    bapak2 itu pake kemeja dan ikat pinggang. handphone menggantung di ikat pinggang. dia lari pake kostum begituuu.

  5. ani says:

    wahahaha..
    ada anak S* ditungguin mak ama bapaknya waktu kaderisasi looooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo….
    kaderisasi S8 ya, bukan OSKM, secaraaaaaa…

  6. ade says:

    hahaha…

    emang ITB sekarang makin kayak TK…

    selaen kelakuan Ortu yang makin memperlakukan anaknya kayak anak TK, kampus juga sama aja…

    jadi ya… kita emang anak TK..

    Institut Taman-kanak-kanak Bandung.. keren juga :))

  7. ikazain says:

    Wow, baru buka blog lagi nih.
    @Bat: Hahaha, kocak abis bat! Harusnya lo foto tuh, pajang di blog. 😀
    @Ani: Jurusane dewe yo? hehe, halo An! Main ke Boul lagi lah 🙂
    @Ade: TK 45juta, De? mahal juga ya.. 😛

  8. asty says:

    ika…..
    inget kenangan indah kita di asrama putri deh…..
    🙂

  9. ikazain says:

    halohalo asty! iya nih. kapan2 kita ngumpul bareng lagi yuk. Si ikis mau ke Belanda lho, summer school. Keren yaa.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s