Boulevard 57

Fantastik.

Itulah satu kata yang bisa menggambarkan apa yang gue rasakan sama produk yang satu ini.

Terbitan pertama setelah gue turun jadi Pemimpin Redaksi.

Pengerjaannya cukup berdarah-darah. Banyak betul rasanya rintangan menghadang.Proses brainstorming-nya biasa saja. Tapi gejolak di tengahnya yang luar biasa.Sampai seminggu dari hari brainstorming, kami belum mendapatkan liputan utama. Hanya liputan Homoseksual di kampus dan Kritisi AD ART Kabinet KM ITB yang sudah fix. Kami masih butuh tulisan untuk mengisi halaman.

Hingga akhirnya pada suatu malam, saya bersama pemimpin redaksi yang baru, dengan ditemani mantan pemimpin perusahaan, menguras otak hingga pagi. Timbulah ide budaya tak peduli mahasiswa ITB sebagai liputan utama. Penulisnya, kita bertiga.

Gejolak timbul lagi saat keluar wacana mengubah format lama. Format A4 dirasa tidak lagi handy ditangan pembaca. Maka kami memilih format sebesar National Geographic; B5. Hal ini tak sekonyong-konyong mudah dilakukan. Berubah format membuat banyak dampak. Mulai dari template layout, harga iklan, dan content proposal kerjasama.

Semuanya terasa Gambling. Karena rentang waktu pengerjaan terbitan ini memang dari awal sudah singkat dibandingkan penerbitan sebelum-sebelumnya. Satu bulan. Ditambah lagi akhir April lalu adalah hari jadi kami yang ke-14. Mau tidak mau harus menyiapkan resource buat bikin perayaan kecil-kecilan. Akhirnya perayaan dilakukan di sebuah warung galery bilangan jalan Riau sana. Gue pribadi sebenernya kurang ngerasain makna dari perayaan tersebut. Cuma obrolan dengan para tetua yang saya nikmati. Sesi itu juga tidak diikuti oleh semua boulers. Sayang.

Dengan segala kegiatan di atas, herannya gejolak-gejolak itu tidak membuat ritme kerja naik. Bagian produksi hanya mencorat-coret prakiraan harga sekenanya pada kertas kosong. Padahal gue minta mereka buat survey langsung perubahan harganya. Redaksi masih kekurangan penulis sampai H-1. Progress pun lambat. Artistik belum saja mulai menjeprat-jepret untuk bahan tulisan. Duh, gue jadi lumayan khawatir terbitan ini akan jadi produk gagal.

Bukan Boulers memang kalo bukan deadliners. Walau budaya jelek ini sudah dihindari dari jaman batu, tetap saja sampai sekarang mengidap di darah-darah para awak Boulevard. Liputan utam dibuat puluk 5 pagi, padahal jadwal bikin plat dan film adalah jam 08.00. Wow. Malam itu beberapa dari kami tak sempat pejam mata. Artistik praktis kelimpungan. Gue pun yang tak pernah nyentuh layout Boulevard juga turun tangan. Artistik menyerah. Deadline tak sanggup tertepati. Pemimpin perusahaan sudah pasrah kecewa. Boulevard 57 gagal terbit tepat waktu. Rencana start penjualan yang sudah di set hari senin (07052007), terpaksa mundur keesokan harinya. Sekali inilah terbitan kami keluar di hari Selasa.

Tang..ting..tung, pemimpin perusahaan berhitung. Ia khawatir memendeknya waktu penjualan akan berpengaruh terhadap hasil penjualan keseluruhan. Kami memang biasa jualan 5 hari, dari Senin sampai Jumat. Terbit Selasa praktis membuat waktu jualan berkurang.

Tapi, Simsalabim! Tak kurang 400 eksemplar terjual di hari pertama, lebih dari separo total eksemplar yang kami produksi. Hari kedua, jangan ditanya. Saya bisa bilang habis. Ludas. Berbahagialah kalian yang memiliki produk kami.

Di balik segala fenomena fantastik itu, masih banyak cacat di sana-sini. Kami tak begitu saja puas. Trimakasih untuk para pembaca yang antusias dengan terbitan kami. Semua, mulai dari surat pembaca yang masuk, iklan yang kami dapat, 2000 Rupiah yang anda tukar, dan segala pendapat dan komentar baik langsung maupun tidak langsung yang anda semua sampaikan pada kami. Jika ada yang kurang puas, atau ingin mengkritik hasil kerja kami, layangkanlah surat elektronikmu ke boulevarditb@yahoo.com. Nantikan Edisi 58 kami.

Advertisements

3 Comments on “Boulevard 57”

  1. djafar says:

    hehe.. bacaan yang cukup “berat”.. ya, boleh juga sih kalo maksudnya emang membiasakan anak itb buat belajar baca yang berat2 dikit..
    hm.. dengan harga segitu sangat worthed ko.. layout oke, tulisan juga bagus, walopun emang berat tadi.. tapi tetep kerasa ada yang kurang.. apa ya.. ntar deh kalo dah inget gue tulis lagi,:D

  2. ikazain says:

    Trimakasih, fajar!
    yaa, emang fungsi kita buat mencerdaskan dan membuka mata anak-anak ITB jar. Ngasih tau kalo ada yang ‘nggak bener’. Halah, jadi berat pisan. 🙂

  3. benx says:

    gw suka banget boul =)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s