Angkot Saya ;))
Kriuk!
Sebelum lebih jauh menulis posting ini, saya mau mengakui sesuatu. Saya mengakui bahwa proses kreatif itu adalah sebuah proses yang mengasyikkan sekaligus paling rumit. Salut saya untuk teman-teman yang memiliki passion besar di bidang kreatif. Salut. Sekali lagi ah: salut.
Saya ingat sekali, saya pernah salah menyebut tagline Boulevard. Saat itu, waktu tingkat satu. Belum lama kenal Boulevard. Padahal oh padahal, setelah saya sadari tagline yang saya salah sebut tadi adalah sebuah karya kreatif. Sungguh malu dan sangat menyesal pernah salah menyebutkan. Saya punya pembelaan tentu saja: habisan nggak diajarin di kaderisasi.. Hoho.
Tagline Boulevard adalah Lewat Kata, Karsa, dan Karya. Hebat ya. It rhymes. Ketiganya berawalan konsonan K. Penuh makna, pastinya. Dan ada lagi yang lebih hebat: jika Kata, Karsa, dan Karya dialihkan ke bahasa Inggris, maka ketiga kata terjemahannya akan juga memiliki awal konsonan yang sama: Through the Word, Will, and Work. Izinkan sekali lagi saya mengakui: Hebat! Sungguh Hebat. Salut deh.
Kenapa tiba-tiba saya menyadari bahwa proses kreatif adalah sulit dan menyenangkan? Hoho, jawabannya adalah karena saya sekarang sedang dituntut untuk bisa berfikir seperti itu. Berpikir super kreatif dan penuh makna. Lewat sesuatu yang bernama Kriuk! Apakah gerangan itu? Yaa, seperti yang tertera di sana. Kriuk! masih menanti untuk terbit segera di Agustus 2008 nanti. Maka dengan segala kesabaran, saya akan membiarkan saya dan teman-teman menanti hingga waktunya tiba.
By the way, Kriuk! tak hanya ditunggangi saya seorang. Kami bekerja sama dalam sebuah tim berisi 4 orang. Menyenangkan (dan sulit) memang dalam menentukan setiap langkah yang dibuat. Namun kami berusaha memberikan yang terbaik. Memang, baru halaman depan yang kami poles. Tapi tetap kami usahakan dibungkus dalam sebuah paket kombo istimewa: menarik, bermakna, dan menjual.
Doakan yaa!
Ikhlas
Ada yang tau caranya?
Yeah, that’s too damn hard.
Tapi bukan berarti nggak bisa.
Pindah Kost (part 1)
Sudah hampir empat tahun saya di bandung dalam rangka studi. Sudah lama juga ya ternyata. Jadi ingat pertama kali injak kaki di Bandung.
Saya diterima di Teknik Industri ITB via SPMB. Sebelumnya sudah lulus Ujian Mandiri UGM Yogyakarta. Waktu itu, karena mengikuti teman-teman SMA yang punya cadangan seandainya tak lolos SPMB, orangtua pun mendaftarulangkan saya ke Yogya. Di sana, saya sudah sempat lihat-lihat kota, kampus, sampai ancer-ancer wilayah kost. Lalu hidup berjalan biasa sampai hari diumumkan kelulusan SPMB. Pilihanpun akhirnya jatuh ke ITB. Pergilah saya daftar ulang ke Sabuga. Tanpa pikir apa-apa. Pokoknya bawa baju seadanya. Diantar si papa. Sudah selesai daftar, malampun tiba. Barulah kami iberpikir, “Mau kost dimana ya..”. Krik..krik.
Malem-malem begini? Mau cari kosan dimana? Batin saya.
Akhirnya saya pun ditinggalkan di asrama puteri Kanayakan. Papa kembali ke rumah. Besok dia harus kembali bekerja. Di Asrama, saya akhirnya bertemu dengan teman-teman baru. Pertemanan pertama di kampus gajah duduk. Ada 5 orang yang senasib sama saya ternyata. Senangnya. Sekitar satu bulan saya tinggal di sana. Bayarnya 10 ribu per hari. Sambil OSKM jadi Srikandi, sambil cari kost kesana kemari. Sampai akhirnya saya kontrak kamar di Taman Sari 118A/58.
Tahun demi tahun saya mengontrak, akhirnya pada tahun ke-empat ini saya memutuskan untuk pindah. Alasannya, yang empunya kost tidak mengontrakkan kamarnya lagi tahun depan. Anak-anaknya sudah beranjak dewasa, dan mereka butuh ruang lebih untuk bisa lebih lega menyelonjorkan anggota tubuhnya.
Huks, sedih juga. Kostan ini benar-benar jadi saksi bertumbuhnya saya. Mulai dari anak SMA ingusan sampe jadi mahasiswa tingkat akhir seperti sekarang. Mulai hanya ditemani suara radio mono, sampai winamp v5.5. Mulai dari jomblo, sampai punya pacar setia. Mulai dari belajar buku purcell, sampai pakai software ProModel.
Yayasan dan Organisasi
Hari ini saya membaca sebuah artikel Pikiran Rakyat mengenai pemadaman listrik Bandung. Kemudian di sana ada Ketua YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) yang angkat bicara. Tadinya saya lalu saja bacanya, kemudian sadar, sudah pakai kata Yayasan kok adalagi kata Lembaga.
Dari Wikipedia, saya mengetahui bahwa Lembaga memiliki arti suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Sedangkan dari situs yang sama, saya mendapatkan bahwa Yayasan adalah juga bentuk organ yang mempunyai maksud dan tujuan, bedanya si yayasan ini ada tambahan badan hukum.
Hmm, mungkin biar nggak mubazir YLKI itu cukup dituli YKI alias Yayasan Konsumen Indonesia. Lebih singkat, hemat kalori dalam pengucapan. Kalau tulis-tulis dokumen juga hemat, hemat tinta. Hihihi, kata penghematan lagi trend ya akhir-akhir ini.
Hoho, bensin mahal.. bensin mahal..
