Sepatu Baru
Sejujurnya, kuliah di Bandung membawa angin segar tersendiri buat saya. Saya lebih leluasa menentukan kegiatan, ritme hidup, dan fashion. Kalau sedang di rumah, ada mama yang selalu rela memberikan second opinion. Walau saya tak minta. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mama ingin saya jadi wanita yang cantik, “jadi cewe gitu lho!” begitu katanya berulang-ulang.
Untuk urusan gaya sehari-hari saya adalah orang yang “gampanglah..” dalam berpakaian. Nyaman jadi atribut lebih penting ketimbang ikut trend. Untuk sepatu, saya lebih sering pakai sepatu keds atau kanvas. Sepatu trepes (flatshoes) ada sih, tapi dibelikan mama. Menurut saya sepatu wanita itu lucu-lucu, tapi entah kenapa gampang sekali rusak. Padahal saya sebagai pemakai merasa memakainya dengan penuh kehati-hatian. Nggak dipakai buat main bola juga. Hahaha. Makanya, kalau belum kena omel disuruh pakai, yaa nggak akan dipakai deh tuh flatshoes. Dan entah sampai pada titik mana saya mulai sedikit sadar untuk sedikit berpenampilan wanita.
Dan, setelah hampir 4 tahun saya kuliah di Bandung, inilah flatshoes pertama yang saya beli. Tanpa paksaan.

Kita lihat bertahan sampai berapa lama.
hohoho..not bad! lucu koq ka..
yah, salah satu jalan untuk menambah identitas lo sebagai cewe dengan memakai sepatu teplek. padahal ga ngaruh2 amat si..
hehe..
Lho, kok sama? Gua juga kemarin baru pertama kali beli sepatu gaya, tapi sepatu kanvas..
Biasanya pakai sepatu running mulu
Sampai, bukan samapi.
hahaha, ikram dasar proofreader…
cieee…cieee sudah semakin cewe nih, udah mau ngapain ka
mau nikah ya?hahhaaha
Ahahahaaaaa…
Awas lo kalo nggak pake sepatu itu pas ketemu gue.
Mo liat, jadi kayagimana kaki lo yang biasanya dibalut sepatu kets. Ahaahahaaaaaa
nice…
ika kya.. kya..
@Sindi:
Terimakasih Sin. Btw, sebenarnya gue masih punya kemampuan memilih sepatu lucu. Tapi.. ya itu, suka kalah sama pertimbangan cepet rusak.
@BL:
Sepatu running, L? Biar siap lari kapanpun dimanapun ya?
@Ikram:
Makasih.
@Ray:
Doakan saja, Ray. Hahaha.
@Echi:
Boleh-boleh. Ayo ketemuan. Makan2 kita.
@Dendi:
Terimakasih
@Ray: Gua nggak bisa komentar hal lain Ray. Sepatu? Bunuh aja gue.
Dah liat gw kemaren.
K O N T R A S ! (Kaki lo)
Tingkat kekerenan dan ke”wanita”an, kayaknya gak ngaruh. Huahahahahaaaaa
@ikram:
i know.
makanya sengaja salah.
hahaha.
@ Echi:
Makasih, Chi.
“Menurut saya sepatu wanita itu lucu-lucu, tapi entah kenapa gampang sekali rusak. Padahal saya sebagai pemakai merasa memakainya dengan penuh kehati-hatian”
bungkus….!!!!
tambah satu lagi..harganya pun selangit…..haha…kalo kena hujan langsung almarhum.
btw kenapa namanya “teplek”? karena bunyinya?
@Ira:
Syukur punya saya yang ini ndak terlalu mahal mbak. Hehehe.
@Ikram:
Iya mungkin kram. Menurut gue juga gitu. Karena bunyinya.
fotonya bagus…. yang motonya apa lagi :p
lebih cewe.. tapi tetep macho.. emang kalo kepribadian ga bisa diubah dengan spatu teplek kali ya…
ika, sepatu bisa bertahan jika:
1. cara jalan kita benar, engga bungkuk, kaki kanan dan kaki kiri ada di satu garis, perut ditahan, panggul juga
2. engga jalan di jalan yang berbatu, engga mulus, terjal, etc…you name it…pokonya jangan jalan di jalan yang jelek dey ya..
terus, sepatu itu bisa awet sampe sekitar 3 juta langkah kaki…
terus, kalo mau yang awet, beli aja di charles and keith yang di pvj bandung…soalnya aku juga make semua brand CK, dan awet2 semua loh, yang hi-heeled pun juga awet..
oia…visiting blog aku dey ya…ada post “5 Must have Shoes”…buat referensi sepatu hehe
oia..kelupaan… missbootyglam.wordpress.com