So(gokan) Sweet!
Nggak kuliah 3 minggu.
Lalu berencana kuliah jam 12 siang hingga 6 sore.
Dan kemudian mengadakan kuliah pengganti hari Sabtu.
***
“Ka, kok si Ibu nggak minta maaf ya?”, tanya Gita, teman saya, waktu mulai kuliah jam 10 tadi pagi.
“Hahaha, ” saya ketawa saja.
Ternyata, kotak itulah yang muncul di akhir kuliah jam 1 siang hari ini. Sekotak permen kopi rasa cokelat merek Delfi. Komplit dengan lilitan pita.
Uh, so sweet ya!
Pada Suatu Kuliah..
Kalau sesuai rencana, semester ini adalah semester terakhir saya mengambil jumlah 2 digit sks pada perkuliahan. Saya mengambil kredit berjumlah 20 untuk semester ini. Kredit yang mengadakan kelas untuk kuliah ada 5. Kuliah rasanya lengang sekali lho buat saya. Entah kenapa. Hmm, mungkin karena semester ini tanpa praktikum. Mungkin karena sudah turun jabatan. Lho, jadi meleber. Bukan itu kok yang saya mau ceritakan.
Kuliah yang lengang berdampak pada mudahnya saya mengatur otak untuk fokus ke lima kuliah tadi. Saya sangat menikmati perkuliahan pada semester ini sampai pada suatu hari…
Kuliah ini didoseni oleh seorang bapak yang punya kemampuan bicara ruarr biasa lama. Dia mampu memberikan kuliah tiga setengah jam nonstop. Maklum saja, pekerjaannya sehari-hari sebagai konsultan biasa mengandalkan kemampuan berkomunikasi selain, tentu saja, otaknya yang cemerlang. Saya sempat berpikir, isterinya pasti seorang yang punya kemampuan mendengar yang juga ruarr biasa. Hehe.
Secara kemampuan otak, saya mampu menangkap kuliahnya dengan baik. Walau sempat tidur barang satu dua jam, saya toh tetap mendapat satu dua setengah jam sisanya dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan. Saya suka caranya menyampaikan kuliah, karena dia sering mengaplikasikan ilmunya dalam contoh-contoh nyata perusahaan Indonesia. Perusahaan klien miliknya, tentu saja.
Kuliah lalu dia mengadakan kuis. Peserta kelas pun diminta mengeluarkan secarik kertas, dan mulailah dia menyebutkan soal yang harus dijawab, “Mengapa perspektif finansial pada peta strategi tidak membutuhkan inisiatif strategik?”. Begitulah bunyi soal yang harus kami jawab. Saya pun sigap merangkai kalimat, menuangkan jawaban di kepala. “Karena perspektif Finansial merupakan level paling atas pada peta strategi. Dan karena inisiatif strategik dibuat untuk mencapai sasaran strategik pada perspektif level diatasnya, maka karena perspektif finansial adalah level paling atas, maka tidak diperlukan adanya inisiatif strategik”. Berdasarkan lirikan mata, jawaban saya singkat dibandingkan dengan jawaban tetangga sesampingan saya. Ah, saya tambahkan gambar deh. Gambar level -level perspektif tadi. Oke, dan dikumpulkanlah kertas itu.
Lalu si bapak men-screening jawaban. Pada saat dia sampai ke kertas jawaban saya dia bertanya, “Mana Fadilla Tourizqua?” tentu saja dia kesulitan membaca nama saya. Lalu saya mengangkat tangan. Dia tampak membaca jawaban saya, lalu berkata lagi “Anda ini anak TI kan, ya?”. TI adalah singkatan dari nama jurusan saya: Teknik Industri. Lalu saya mengangguk tanda iya. Dan si bapak melanjutkan komentarnya, “Anda ini kok jawabannya begini? malu-maluin anak TI aja. Anda ini anak TI nggak sih?”
Der..der..der.. Saya pun mengerutkan dahi. Diam. Tak berbunyi.
Salah ya jawaban saya? Perasaan jawaban yang saya tulis tidak menyinggung TI sama sekali. Hmmm, menyinggung si bapak juga nggak. Dan kuliah kemarin saya tidak tidur sama sekali. Sehingga saya benar-benar mendengar apa yang si bapak bilang. Bahkan sampai saya rekam ke handphone segala (ini adalah tindakan preventif siapa tahu ditengah jalan saya terlelap). Saya menanti si bapak memberitahu jawaban. “Jadi jawabannya, yaaa karena perspektif Finansial itu perspektif terakhir yang dituju.”
Nah lo. Apa bedanya sama jawaban saya tadi?
Saya pun terdiam sepanjang kuliah. Sebal. Karena saya merasa dipermalukan di depan umum. Lalu saya mikir-mikir lagi, jangan-jangan tulisan yang saya tulis tadi berubah secara ajaib jadi coret-coretan benang kusut ala anak TK. Kalo benar begitu, pantas saja saya dianggap memalukan anak TI. Huh, pokoknya saya bertekad, di akhir kuliah nanti saya akan bertanya apa kesalahan saya pada si bapak. Untuk membangun kembali image yang tadi rusak sebelum menghadap, saya pun akhirnya membuka mata lebar-lebar saat kuliah. Semoga kuliah hari ini tidak sampai tiga setengah jam, batin saya.
Singkat cerita kuliah pun berlalu. Saya sigap menuju meja si bapak setelah keadaan kelas agak menyepi. Saya membuka dengan pertanyaan pengantar sebelum menyampaikan maksud baik saya. Saya bertanya tentang hubungan inisiatif strategik, action plan, sasaran strategik, indikator kinerja, level perspektif, sampai tujuan besar perusahaan: Komplit saya gambar manual. Si bapak pun dengan semangat mengiyakan semua yang saya konfirmasikan.
Lalu saya bertanya “Lha kuis saya tadi bener dong pak. Kok bapak bilang malu-maluin anak TI. Bagian yang malu-maluin itu yang mana ya pak?”. Dan si bapak pun menjawab, “Oh iya ya? Saya salah baca kayakya. Nanti saya baca lagi deh.”
Salah bacaaaaaaaaa??????????!!!! Saya mau teriak rasanya. Meledak. Tapi nggak bisa. Cuma diem, dan bilang. “Oh….” memasang muka datar setengah sebal, dan “hmm, yaudah. Makasih pak”. Lalu pergi gontai meninggalkan kelas.
Huh.
Ujian-apapun-namanya-nanti
Kemarin baca koran. Tertulis 41 Perguruan tinggi boikot sistem SPMB. Mereka mau bikin sistem baru berjudul UMPTN. Familiar ya? iya, kepanjangannya juga sama kok. Ngobrol punya ngobrol sama seorang teman pemilik Bimbel, katanya karena tesnya hanya fokus ke akademik. Tidak ada tes yang menunjukkan minat, bakat, potensi, TOFL, dan teman-temannya itu.
Hooo, kalau memang karena itu masalahnya, sebagai salah satu jebolan SPMB, saya diam-diam senang. Nantinya kualitas teman-teman yang masuk PTN tentu akan lebih baik dibandingkan angkatan saya atau sebelum-sebelumnya. Penasaran, saya coba cek-cek lagi dengan berjalan-jalan ke beberapa situs berita. Ternyata eh ternyata, masalahnya bukan konten tes yang diberikan lho. Tapi masalah transparansi dana. Jadi, uang beli formulir itulah yang dipermasalahkan. Para PTN ini ndak setuju kalo uangnya masuk ke kas negara, cek ini deh. Tang ting tung, akhirnya jika UMPTN nanti jadi ada, ada angka bagi-bagi 60 - 40 untuk pilihan IPA/IPS dan 55 - 30 - 15 untuk IPC, di sini. Hoho, katanya sih mereka masih mau berdamai alias rembuk balik ke SPMB, kalo Depdiknas mau diajak kerjasama, di sini.
Yaa, saya tidak jadi senang diam-diam deh. Tapi jangan khawatir buat teman-teman yang akan menghadapi ujian-apapun-namanya-nanti-itu, karena tim penyusun soal akan meminimalisir perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya. Eh, saya jadi aja deh, diam-diam senangnya. Kalau diminta jadi pengawas di ujian-apapun-namanya-nanti. Lumayan honornya buat makan enak ![]()