So Long 20
Kurva Cinta
Beberapa teman punya kabar bahagia nih. Mereka baru pada punya pasangan a.k.a melepas masa jomblonya. Yang ini dan ini misalnya, saya sempat memergoki keduanya berjalan bersama di sebuah bioskop di kawasan Cihampelas. Saya sempat mengambil gambar mereka. Niat usilnya sih mau di-post di blog saya, tapi atas saran pemimpin redaksi Boulevard katanya tidak usah. Jadilah tak turun publish, hehe. Namun kini keduanya sudah resmi pacaran. At least itu yang saya lihat di account friendster mereka. Selamat btw yaa, kita tunggu nih makan-makannya.
Teman yang lain, juga mendapat berkah serupa. Bedanya, teman yang satu ini tidak segan memberi tahu langsung kabar gembira ini pada saya. Walau via YM dan bukan orang pertama yang diberitahu, tapi saya ikut senang membacanya. Saya ingin senyum terus, senaaang sekali. Padahal yang jadian bukan saya.
Untuk merayakannya malam itu akhirnya saya dan dia makan bersama. Sebenarnya bukan maksud merayakan. Kebetulan saya larut itu belum makan, dan perut ini rasanya meraung-raung minta diisi. Sekalian saja, sekalian menenangkan perut, sambil dengar kisah romantis dari arjuna baru: teman saya ini. Kami akhirnya melancong ke sebuah warung tenda sop kaki di kawasan jalan Dago. Dingiiin sekali, tapi ditemani cerita cinta dan sop kaki, jadi hangat deh. Halah.
Pembicaraan akhirnya merembet ke tingkah polah lelaki dan wanita dalam menjalani relationship. Saya, sebagai teman yang tidak jomblo dalam beberapa tahun belakangan ini, jadi merasa punya kapabilitas untuk sedikit berbagi pengetahuan. Hmm, pengetahuan bukan ya? Sebenarnya ini cuma sekedar wacana yang pernah saya diskusikan. Bersama pacar saya tentunya.
Arjuna Duta, sebut saja nama teman saya begitu, bercerita bahwa pacar barunya belum sepenuhnya yakin akan keputusan yang baru saja mereka buat. Namun si arjuna juga mengeluhkan kegampangannya dekat dengan srikandi-srikandi lain. Even srikandi tersebut bukan miliknya, hihi. Berdasarkan hasil diskusi, kemudian saya memberikan deskripsi seperti kurva di bawah ini:
Lelaki cenderung memiliki perjalanan perasaan hati yang bergelombang. Yaa, seperti kurva sinusoidal itu. Berpuncak dan berlembah. Ada kalanya seorang arjuna merasa sedang di ujung puncak cinta dengan srikandinya, tapi adakalanya juga sedang datar-datar saja, atau bahkan malah rasanya ingin jauh-jauh dari si-srikandi. Nah, kalu cewe begini nih kurvanya..
Srikandi cenderung tipe yang mampu belajar. Dari perasaan yang biasa saja, lama kelamaan kalau diberi perhatian terus menerus sama si arjuna yaa… leleh juga. Seperti halnya kurva kuadratis, bahkan jika berangkat dari koordinat negatif, toh akhirnnya kurva ini bisa bergerak jauuuh melambung ke atas. Means kalo para arjuna mau meng-impress srikandi dengan membuat mereka merasa benci dan sebal sekalipun, bisa jadi ujung-ujungnya cinta. Hahaha.
Intinya, saya bilang sama Arjuna Duta, yaa wajar saja kalau keadaannya demikian. Nanti pada saatnya juga keduanya akan terbiasa. Seturun-turunnya koordinat lembah pada kurva sinusoidal, pasti akan tetap pada nominal yang sama kok. Maksudnya, saat arjuna sedang ingin jauh atau bahkan sebal sama srikandi, pasti dia akan tetap dalam satu interval yang sama, untuk kasus sinus-cosinus misalnya, kurva akan tetap pada interval 1 s/d (-1). Jadi yaa, intinya sih si srikandi ndak perlu khawatir si arjunanya akan kemana-mana. Selama masih dalam interval yaa oke-oke saja.
Kurva kuadratis juga nggak selamanya naik terus lho. Kalo nggak ada input nominal yang dimasukkan dalam fungsi, ya nggak akan naik. Means, kalo si arjuna tak kunjung membuat si srikandi percaya dan nyaman dengannya, yaa mentok aja kurvanya di situ.
Hoho, sekali lagi saudara-saudara, ini hanyalah hasil diskusi sebuah wacana dua orang. Tidak ada uji validitas, relialititas , atau uji-uji alat ukur apapun dalam menyusunnya. Hanya sebuah wacana.
![]()


