Luar Negeri
Mungkin terlalu kebetulan kalau kemarin malam saya banyak menyapa teman-teman yang sudah lama tidak ngobrol. Dan lebih kebetulan lagi, mereka semua sedang ada di luar negeri. Irfan Assaat ada di Inggris. Ibam, entah siapa nama panjangnya, dia sedang di Jerman. Uliya, salah satu teman SMA saya, sedang melanjutkan studi di Malaysia. Gusti Satria, teman SMA saya yang lain masih Australia. Batari Saraswati, minggu besok berangkat ke Jepang.
Wooow, keren ya. Lima negara yang berbeda, dan semuanya temen gue. Hahahaha, biarin deh bukan gue yang ke luar negeri. Tapi gue kecipratan bangganya. Sukses ya buat kalian semua.
Semoga suatu hari gue juga punya kesempatan keluar negeri juga nyusul lo semua. Amin.
Sibuk
Saya sedang sibuk. Idih, sok sibuk deh. Haha, doakan yaa, semoga semua bisa dilalui dengan cepat.
Masalahnya, hal yang terasa berlalu cepat adalah hal yang kita senangi. Biasanya karena kita asyik mengerjakan kesibukan tersebut, akhirnya tidak terasa waktu berlalu. Nah, hal yang membuat saya sibuk sekarang bukanlah hal yang terlalu saya senangi. Sejujurnya, ada kesibukan lain yang lebih saya nikmati ketimbang sibuk kuliah. Boulevard dan pacaran misalnya. Hehehe.. Bagaimanapun, saya berusaha tidak meninggalkan keasyikan saya ke kedua hal tadi. Apalagi ke Boulevard.
Seharusnya sih semakin banyak kesibukan, semakin baik kemampuan mengatur kegiatan. Kata mas-mas Raihan kan, selalu ada senggang sebelum sempit. Yapyap, semoga aja cepat berlalu deh.
Take A Look Closer!
“Inisiatif Integrasi Media ITB adalah ajang kolaborasi media-media seluruh organisasi yang ada di ITB,…”.
Saya bertanya-tanya, maksud tulisan ini apa ya?
Mungkin penulisnya lupa menyisipkan kata sambung ‘di’ sebelum kata ‘seluruh’. Tunggu..tunggu, bisa jadi juga dia terbalik meletakkan kata ‘seluruh organisasi’ yang harusnya mengekor setelah kata ‘ajang kolaborasi’. Oh, please correct me if I’m wrong.
Lagipula 41 kata dalam satu kalimat, yang juga satu paragraf, amat membuat saya malas membaca pada pandangan pertama. Masih tertarik baca sisanya? Monggo lho..
Ps: Kok jadi ketularan ikram gini sih. Tapi yang satu ini, memang benar-benar bikin saya gatal-gatal. Maaf deh.
Semua Ada Saatnya
Saya yakin hampir semua orang pernah mendengar kata market leader. Kalaupun tak pernah dengar kata tersebut, paling tidak rata-rata orang Indonesia berprilaku sama terhadap produk-produk yang keluar duluan di pasar. Aqua biasanya jadi contoh yang lazim. Apapun merek pada kemasannya, customer biasa menggeneralisasikan merek Aqua. Mau merek yang dijual Ades, VIT, atau Ron 88, tetap saja mereka meminta dengan, “Aqua”. Kalaupun akhirnya penjual tidak memberi merek yang dimaksud, biasanya pelanggan tidak protes. Pokoknya setahu mereka air minum kemasan itu ya namanya Aqua. Kasus serupa terjadi pada beberapa merek seperti Pepsodent, Indomie, atau Infokus.
