Sepatu Baru
Sejujurnya, kuliah di Bandung membawa angin segar tersendiri buat saya. Saya lebih leluasa menentukan kegiatan, ritme hidup, dan fashion. Kalau sedang di rumah, ada mama yang selalu rela memberikan second opinion. Walau saya tak minta. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mama ingin saya jadi wanita yang cantik, “jadi cewe gitu lho!” begitu katanya berulang-ulang.
Untuk urusan gaya sehari-hari saya adalah orang yang “gampanglah..” dalam berpakaian. Nyaman jadi atribut lebih penting ketimbang ikut trend. Untuk sepatu, saya lebih sering pakai sepatu keds atau kanvas. Sepatu trepes (flatshoes) ada sih, tapi dibelikan mama. Menurut saya sepatu wanita itu lucu-lucu, tapi entah kenapa gampang sekali rusak. Padahal saya sebagai pemakai merasa memakainya dengan penuh kehati-hatian. Nggak dipakai buat main bola juga. Hahaha. Makanya, kalau belum kena omel disuruh pakai, yaa nggak akan dipakai deh tuh flatshoes. Dan entah sampai pada titik mana saya mulai sedikit sadar untuk sedikit berpenampilan wanita.
Dan, setelah hampir 4 tahun saya kuliah di Bandung, inilah flatshoes pertama yang saya beli. Tanpa paksaan.

Kita lihat bertahan sampai berapa lama.
Karena Boulevard
Banyak yang terjadi karena Boulevard. Tidak sekedar dapat ilmu jurnalistik atau bisa ketemu langsung dengan orang top kampus. Lebih dari sekedar itu. Kamu bisa meningkatkan kemampuan main bilyard, kemampuan menyanyi, menghina orang, dapat jodoh, kena sial, atau.. nampang:
Gambar tersebut muncul saat saya membuka situs perpustakaan pusat untuk cari jurnal bahan Tugas Akhir. Fotonya memang disetting berubah setiap di-generate ulang. Kalau niat nemu fotonya, coba di F5 aja terus. Hhehe.
Kartini Tahun Ini
Pagi ini saya memulai hari sekitar pukul 9 . Saya ingat hari ini tanggal 21 April. Seorang teman sudah mengucapkan Selamat Kartini jam 12 malam tadi. Ditambah lagi sms dari Gita, yang juga mengucapkan hal senada. Tidak mau kalah. Saya buka komputer dan mengaktifkan pidgin. Pasang status “happy Kartini’s day, woman!”.
Hari Kartini selama ini memang tidak begitu spesial buat saya. Saya tidak pernah kebayaan dengan sengaja lagi sejak acara Kartini zaman SD dulu. Biar begitu, ada kebanggaan di sudut kecil hati saya atas dirayakan pergerakannya wanita di Indonesia. Hidup berjalan seperti biasa sampai muncul sebuah window Pidgin yang mengomentari status yang saya pasang. Ehm, kita sebut saja namanya Okta. Tentu saja bukan nama sebenarnya.
Okta: Apa sih Kartini-Kartinian. Biasa aja.
Ohoho, ternyata memang tidak semua orang menyambut antusias ya. Akhirnya saya balas,
Ika: Iri yaa, mentang-mentang nggak ada hari Kartono. :))
Saya jawab dengan niat bercanda saja. Ternyata jawabannya diluar dugaan saya.
Okta: Kalo mau ada persamaan antara cowo dan cewe, harusnya nggak usah pake acara kartini-kartinian. Nggak penting.
Waduh, ini orang. Pagi-pagi kok udah ngajak berantem. Ada panas yang melanda dalam hati saya. Hari Kartini yang jatuh 21 April adalah jatuh pada hari kelahiran pahlawan wanita Indonesia, R.A. Kartini. Kartini dikenang jasanya karena dia memperjuangkan hak kaum wanita Indonesia untuk mengenyam pendidikan. Begitu juga kalau kita memperingati 17 Agustus. Karena pada hari tersebut kita mengenang jasa pahlawan yang akhirnya meraih kemerdekaan RI. Begitu juga dengan peringatan Maulid Nabi, Isa Almasih, Natal, Isra’ Mi’raj, dan hari besar lainnya.
Wahai saudara Okta,
Kalau memang semua itu tidak penting untuk diperingati. Apakah alasan spesifik yang anda kemukakan? Oh ya, saya berasumsi paling tidak anda memperingati hari kelahiran setiap tahunnya. Begitu pentingnyakah menurut anda hidup yang anda jalani, hingga diperingati tiap tahunnya?
Akhirnya saya memutuskan untuk tidak meladeni panjang pembicaraan itu.
So(gokan) Sweet!
Nggak kuliah 3 minggu.
Lalu berencana kuliah jam 12 siang hingga 6 sore.
Dan kemudian mengadakan kuliah pengganti hari Sabtu.
***
“Ka, kok si Ibu nggak minta maaf ya?”, tanya Gita, teman saya, waktu mulai kuliah jam 10 tadi pagi.
“Hahaha, ” saya ketawa saja.
Ternyata, kotak itulah yang muncul di akhir kuliah jam 1 siang hari ini. Sekotak permen kopi rasa cokelat merek Delfi. Komplit dengan lilitan pita.
Uh, so sweet ya!
Pada Suatu Kuliah..
Kalau sesuai rencana, semester ini adalah semester terakhir saya mengambil jumlah 2 digit sks pada perkuliahan. Saya mengambil kredit berjumlah 20 untuk semester ini. Kredit yang mengadakan kelas untuk kuliah ada 5. Kuliah rasanya lengang sekali lho buat saya. Entah kenapa. Hmm, mungkin karena semester ini tanpa praktikum. Mungkin karena sudah turun jabatan. Lho, jadi meleber. Bukan itu kok yang saya mau ceritakan.
Kuliah yang lengang berdampak pada mudahnya saya mengatur otak untuk fokus ke lima kuliah tadi. Saya sangat menikmati perkuliahan pada semester ini sampai pada suatu hari…
Kuliah ini didoseni oleh seorang bapak yang punya kemampuan bicara ruarr biasa lama. Dia mampu memberikan kuliah tiga setengah jam nonstop. Maklum saja, pekerjaannya sehari-hari sebagai konsultan biasa mengandalkan kemampuan berkomunikasi selain, tentu saja, otaknya yang cemerlang. Saya sempat berpikir, isterinya pasti seorang yang punya kemampuan mendengar yang juga ruarr biasa. Hehe.
Secara kemampuan otak, saya mampu menangkap kuliahnya dengan baik. Walau sempat tidur barang satu dua jam, saya toh tetap mendapat satu dua setengah jam sisanya dapat menangkap apa yang ingin dia sampaikan. Saya suka caranya menyampaikan kuliah, karena dia sering mengaplikasikan ilmunya dalam contoh-contoh nyata perusahaan Indonesia. Perusahaan klien miliknya, tentu saja.
Kuliah lalu dia mengadakan kuis. Peserta kelas pun diminta mengeluarkan secarik kertas, dan mulailah dia menyebutkan soal yang harus dijawab, “Mengapa perspektif finansial pada peta strategi tidak membutuhkan inisiatif strategik?”. Begitulah bunyi soal yang harus kami jawab. Saya pun sigap merangkai kalimat, menuangkan jawaban di kepala. “Karena perspektif Finansial merupakan level paling atas pada peta strategi. Dan karena inisiatif strategik dibuat untuk mencapai sasaran strategik pada perspektif level diatasnya, maka karena perspektif finansial adalah level paling atas, maka tidak diperlukan adanya inisiatif strategik”. Berdasarkan lirikan mata, jawaban saya singkat dibandingkan dengan jawaban tetangga sesampingan saya. Ah, saya tambahkan gambar deh. Gambar level -level perspektif tadi. Oke, dan dikumpulkanlah kertas itu.
Lalu si bapak men-screening jawaban. Pada saat dia sampai ke kertas jawaban saya dia bertanya, “Mana Fadilla Tourizqua?” tentu saja dia kesulitan membaca nama saya. Lalu saya mengangkat tangan. Dia tampak membaca jawaban saya, lalu berkata lagi “Anda ini anak TI kan, ya?”. TI adalah singkatan dari nama jurusan saya: Teknik Industri. Lalu saya mengangguk tanda iya. Dan si bapak melanjutkan komentarnya, “Anda ini kok jawabannya begini? malu-maluin anak TI aja. Anda ini anak TI nggak sih?”
Der..der..der.. Saya pun mengerutkan dahi. Diam. Tak berbunyi.
Salah ya jawaban saya? Perasaan jawaban yang saya tulis tidak menyinggung TI sama sekali. Hmmm, menyinggung si bapak juga nggak. Dan kuliah kemarin saya tidak tidur sama sekali. Sehingga saya benar-benar mendengar apa yang si bapak bilang. Bahkan sampai saya rekam ke handphone segala (ini adalah tindakan preventif siapa tahu ditengah jalan saya terlelap). Saya menanti si bapak memberitahu jawaban. “Jadi jawabannya, yaaa karena perspektif Finansial itu perspektif terakhir yang dituju.”
Nah lo. Apa bedanya sama jawaban saya tadi?
Saya pun terdiam sepanjang kuliah. Sebal. Karena saya merasa dipermalukan di depan umum. Lalu saya mikir-mikir lagi, jangan-jangan tulisan yang saya tulis tadi berubah secara ajaib jadi coret-coretan benang kusut ala anak TK. Kalo benar begitu, pantas saja saya dianggap memalukan anak TI. Huh, pokoknya saya bertekad, di akhir kuliah nanti saya akan bertanya apa kesalahan saya pada si bapak. Untuk membangun kembali image yang tadi rusak sebelum menghadap, saya pun akhirnya membuka mata lebar-lebar saat kuliah. Semoga kuliah hari ini tidak sampai tiga setengah jam, batin saya.
Singkat cerita kuliah pun berlalu. Saya sigap menuju meja si bapak setelah keadaan kelas agak menyepi. Saya membuka dengan pertanyaan pengantar sebelum menyampaikan maksud baik saya. Saya bertanya tentang hubungan inisiatif strategik, action plan, sasaran strategik, indikator kinerja, level perspektif, sampai tujuan besar perusahaan: Komplit saya gambar manual. Si bapak pun dengan semangat mengiyakan semua yang saya konfirmasikan.
Lalu saya bertanya “Lha kuis saya tadi bener dong pak. Kok bapak bilang malu-maluin anak TI. Bagian yang malu-maluin itu yang mana ya pak?”. Dan si bapak pun menjawab, “Oh iya ya? Saya salah baca kayakya. Nanti saya baca lagi deh.”
Salah bacaaaaaaaaa??????????!!!! Saya mau teriak rasanya. Meledak. Tapi nggak bisa. Cuma diem, dan bilang. “Oh….” memasang muka datar setengah sebal, dan “hmm, yaudah. Makasih pak”. Lalu pergi gontai meninggalkan kelas.
Huh.
